KAI KEMBANGKAN JALUR KERETA TRANS SUMATERA, ALAN JUYADI SARANKAN SUSUN PETA JALAN YANG JELAS DAN TERUKUR


Tipikornews.com JAKARTA ,11 Juni 2026 - PT Kereta Api Indonesia (Persero) berencana mewujudkan jaringan kereta api terintegrasi yang menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Proyek ambisius ini diperkirakan menyerap investasi sebesar USD 20–25 miliar atau setara sekitar Rp 350 triliun.

 
Merespons rencana besar tersebut, politisi muda asal Bengkulu, Alan Juyadi, SH, menyatakan dukungan penuh sekaligus menyampaikan catatan penting agar pembangunan tidak hanya berhenti sebagai wacana megah, namun memberikan manfaat nyata.

VISI BESAR PERLU DIPADU DENGAN LANGKAH REALISTIS
 
“Kami sepenuhnya mendukung visi menghadirkan konektivitas lintas Sumatera. Namun, pembangunan tidak boleh sekadar mengejar target panjang jalur. Yang lebih krusial adalah memastikan jalur yang sudah ada berfungsi optimal, cepat, aman, dan benar-benar menggerakkan roda perekonomian masyarakat,” tegas Alan Juyadi.
 
Ia menilai proyek ini memiliki potensi strategis untuk memangkas biaya logistik, mempercepat mobilitas, dan mendorong pertumbuhan wilayah. Namun, visi besar harus diimbangi dengan perencanaan yang matang dan bertahap.
 
JANGAN ABAIKAN KONDISI JALUR YANG SUDAH ADA
 
Alan menyoroti fakta bahwa hingga saat ini, sejumlah layanan kereta api di Sumatera masih menghadapi tantangan mendasar. Kecepatan perjalanan yang relatif lambat dan tingkat pemanfaatan yang belum maksimal masih menjadi keluhan di berbagai koridor, seperti Lampung–Palembang hingga Palembang–Lubuk Linggau.
 
“Jangan sampai kita sibuk merencanakan ribuan kilometer rel baru, sementara jalur yang sudah ada masih berjalan lambat dan belum dimanfaatkan secara maksimal. Itu menjadi pemborosan potensi yang tidak boleh diulang,” tegasnya.
 
Selain itu, ia mengingatkan perlunya keseimbangan antara kebutuhan angkutan barang yang selama ini mendominasi jalur di Sumatera dan pelayanan bagi penumpang, agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
 
PEMERATAAN AKSES DAN KAJIAN YANG MATANG
 
Salah satu poin yang menjadi perhatian serius adalah pemerataan akses. Alan menegaskan perencanaan harus menghindari kesan peminggiran daerah.
 
“Pertanyaan wajar muncul: Mengapa daerah seperti Bengkulu belum masuk dalam prioritas jalur utama? Padahal jarak penghubung Lubuklinggau–Bengkulu hanya sekitar 90 kilometer. Pengalaman pembangunan jalan tol Trans Sumatera yang belum sepenuhnya optimal menjadi pelajaran berharga agar proyek rel ini tidak mengalami hal serupa,” ujarnya.
 
DESAKAN: SUSUN PETA JALAN YANG JELAS DAN TERUKUR
 
Untuk itu, Alan Juyadi mendesak KAI bersama pemerintah menyusun peta jalan yang transparan dan terukur. Urutan prioritas harus disusun berdasarkan kebutuhan riil, mulai dari:
 
1. Optimalisasi dan peningkatan kualitas jalur yang sudah ada
2. Peningkatan kecepatan dan keamanan perjalanan
3. Pembangunan jalur penghubung yang memberikan dampak ekonomi terbesar
4. Pengembangan konektivitas penuh secara bertahap hingga menjangkau seluruh wilayah
 
“Proyek ini masuk dalam Proyek Strategis Nasional. Harapannya besar, namun tanggung jawabnya juga besar. Dana yang sangat besar harus digunakan seefisien mungkin. Susun perencanaan yang jelas, agar tidak ada daerah yang merasa terpinggirkan dan hasilnya benar-benar dinikmati generasi mendatang,” pungkasnya.
 
 
Sumber: TB/Megy
 
#KeretaApiTransSumatera #InfrastrukturNasional #KonektivitasWilayah #AlanJuyadi #PembangunanBerkelanjutan #ProyekStrategis #SumateraMaju
 


0 Komentar