Hadysa Prana, Pendiri sekaligus Ketua Umum kedua organisasi besar ini, menyampaikan arahan pemikiran yang sarat makna dan filosofi mendalam kepada seluruh jajaran pengurus dan anggota di seluruh Nusantara. Hal ini disampaikan dalam rangka memantapkan langkah menyongsong pelaksanaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Gabungan Nasional yang menjadi agenda strategis ke depan.
Dalam bimbingannya, Hadysa Prana mengajak segenap elemen organisasi untuk merenungi dan menghidupkan kembali falsafah agung warisan leluhur Tatar Sunda, sebagai pondasi kokoh berpijak dan bertindak:
“Dinu kiwari ngancik nu bihari, seja ayeuna sampeureun jaga”
Artinya: Apa yang kita nikmati atau jalani saat ini adalah hasil dari masa lalu, dan apa yang kita lakukan hari ini adalah untuk bekal di masa depan.
Kalimat bijak ini, menurut Hady, bukan sekadar pepatah, melainkan pedoman suci bagi setiap langkah pengabdian. Segala kemajuan dan ketertiban yang dirasakan hari ini adalah buah perjuangan pendahulu. Sebaliknya, apa yang diperjuangkan dan diperbaiki hari ini, akan menjadi warisan emas bagi generasi mendatang.
“Falsafah ini mengajarkan kita bersyukur atas warisan baik, namun sekaligus menanamkan tanggung jawab berat: Jangan merusak apa yang ada, tapi sempurnakanlah demi masa depan yang lebih mulia,” tegas Hadysa Prana.
FILOSOFI MAUNG & RAJAWALI: DUA KEKUATAN, SATU TUJUAN MULIA
Lebih jauh, Hady menguraikan makna mendalam di balik nama dan lambang yang diusung kedua organisasi ini—sebuah simbol karakter yang kini menjadi jiwa pergerakan menyongsong Rakornas Gabungan:
MAUNG: SIMBOL KEKUATAN, KEBERANIAN, DAN KEADILAN
Nama MAUNG (Harimau) bukan sekadar lambang kekuatan fisik, melainkan cerminan karakter mulia seorang pengawal negara:
Berani & Tegas: Menyuarakan kebenaran, mengawal kebijakan, dan menindak ketidakadilan tanpa rasa takut, namun tetap pada koridor yang benar.
Kuat & Tangguh: Memiliki mental baja menghadapi segala tantangan dalam menjaga amanah pengawasan kepada negara.
Pelindung & Penjaga: Menjadi benteng pertahanan hak rakyat dan memastikan roda pemerintahan berjalan sesuai aturan hukum.
Bijaksana: Kekuatan digunakan bukan untuk menindas, melainkan menegakkan keseimbangan dan keadilan hakiki.
RAJAWALI: SIMBOL PANDANGAN LUAS, KEBEBASAN, DAN KETAJAMAN
Sementara itu, nama RAJAWALI (Elang) dipilih untuk menggambarkan karakter insan pers dan lembaga pencerahan:
Pandangan Jauh & Tajam: Mampu melihat peristiwa dari sudut luas, menelusuri fakta tersembunyi, serta memahami dampak jangka panjang kebijakan.
Terbang Tinggi & Bebas: Berani melampaui rintangan, mandiri dari kepentingan golongan, dan lantang menyampaikan kebenaran tanpa belenggu.
Cerdas & Cermat: Bertindak berdasarkan fakta nyata, teliti menyampaikan informasi, dan mengarahkan masyarakat menuju terang kebenaran.
“MAUNG adalah kekuatan pengawasan dan pembela kebenaran, RAJAWALI adalah ketajaman pandangan dan penyampai kebenaran. Keduanya bersatu, saling menguatkan, dalam satu tujuan mulia: Membangun tata kehidupan bangsa yang lebih bersih, adil, dan sejahtera,” jelas Ketua Umum.
MENYONGSONG RAKORNAS: JADIKAN MASA KINI BEKAL MASA DEPAN
Menjelang pertemuan akbar Rakornas Gabungan Nasional, Hadysa Prana berharap seluruh elemen organisasi hadir bukan hanya sebagai peserta, melainkan sebagai pewaris dan penerus nilai luhur.
“Mari kita jadikan momen Rakornas ini sebagai 'masa kini' yang kita jalani dengan kesadaran penuh. Kita bawa pengalaman baik masa lalu, kita perbaiki kekurangan yang ada, dan kita susun strategi matang. Apa yang kita hasilkan di pertemuan ini, kelak akan menjadi amal jariyah dan bekal emas bagi kemajuan organisasi serta kesejahteraan Indonesia di masa depan,” pungkasnya penuh harap.
Semoga semangat leluhur senantiasa menuntun langkah MAUNG dan RAJAWALI menuju pengabdian yang lebih bermakna.
#MAUNG #RAJAWALI #RakornasGabungan #FalsafahSunda #KearifanLokal #PengabdianUntukNegara
Publisher: TIM/RED | Penulis: TIM MAUNG + RAJAWALI


0 Komentar