Tipikornews.com Jakarta – Dua puluh tahun peringatan May Day bergulir, namun nasib buruh Indonesia seolah tak berubah. Sistem kontrak dan outsourcing yang tidak manusiawi masih saja menjadi belenggu yang menindas.
Merespons kondisi memprihatinkan ini, Pakar Hukum Internasional dan Tokoh Nasional, Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H., M.H., melayangkan pertanyaan mendasar sekaligus peringatan keras kepada negara. Ia meminta Presiden RI, Jenderal TNI (Purn.) H. Prabowo Subianto, untuk benar-benar membuktikan komitmennya menghapus sistem yang memperbudak generasi bangsa.
"20 TAHUN BERJUANG, KENAPA ATURAN YANG ERROR MASIH DIJAGA?"
Dalam pernyataan berwibawanya di Markas Partai Koalisi Rakyat Indonesia, Cijantung, Senin (4/5/2026), Prof. Sutan menyoroti ironi yang menyakitkan. Berganti presiden dan pemerintahan, namun nasib pekerja justru semakin terpuruk, hak-hak mereka semakin hilang.
"Miris sekali melihat aturan yang tidak manusiawi ini masih dipertahankan. Sudah 20 tahun buruh berteriak minta sistem kontrak dihapuskan, tapi tak juga dilaksanakan. Kenapa penguasa masih mempertahankan aturan yang jelas-jelas error dan menyakiti rakyat?" ujarnya dengan nada dalam.
Ia menegaskan, negara seharusnya berani mencabut sistem outsourcing yang hanya menguntungkan segelintir pihak dan menjadikan pekerja layaknya barang dagangan yang bisa dibuang sewaktu-waktu.
INGATAN KERAS: KATA-KATA PRABOWO TAHUN 2009 HARUS DIBUKTIKAN!
Prof. Sutan mengingatkan kembali janji sejarah yang pernah disampaikan Bapak Presiden sendiri saat masih menjadi calon pemimpin bangsa.
"Kami ingatkan kembali pernyataan Bapak Presiden Prabowo Subianto pada tahun 2009 yang menolak keras sistem outsourcing karena dinilai TIDAK MANUSIAWI dan melanggar Pancasila. Beliau pernah berkata: 'Pekerja dianggap seperti barang, dipakai lalu ditinggalkan. Ini merugikan masyarakat,'" tegasnya.
"Kini Bapak sudah memegang kendali pemerintahan. Kami berharap kata-kata itu tidak hanya menjadi sejarah, tapi segera diwujudkan dalam Perppu atau aturan hukum yang nyata. Hapuskan sistem ini agar buruh bisa hidup damai, tenang, dan sejahtera," serunya.
TIGA PERTANYAAN MENGGETARKAN: SUDAH MANUSIAWIKAH?
Prof. Sutan mengajak seluruh bangsa ini untuk merenung dan bertanya jujur kepada negara:
Apakah sudah manusiawi besaran UMR yang diberikan saat ini?
Apakah sudah manusiawi aturan ketenagakerjaan yang memberatkan dan tidak berpihak pada rakyat?
Apakah sudah manusiawi menempatkan tenaga kerja Indonesia hanya sebagai sapi perah demi kekayaan orang kaya dan pihak asing?
"Jika dikatakan semua sudah manusiawi, itu hanya pencitraan basi! Itu dusta! Selama masih ada PHK seenaknya, kontrak yang menggantung, dan ketidakadilan, maka hukum kita masih belum berpihak pada kemanusiaan," hardiknya.
Ia juga menyoroti lemahnya perlindungan bagi tenaga kerja lokal dan marinya praktik tidak sehat dalam perekrutan yang mempersulit rakyat mencari nafkah.
PANGGILAN MULIA: JANGAN BIARKAN DARAH RAKYAT DIJAJAH LAGI!
Di akhir pernyataannya, Prof. Sutan Nasomal memberikan pesan yang menyentuh nurani dan memanggil jiwa kepemimpinan Presiden.
"Kami minta Bapak Presiden hadir sebagai Bapak Bangsa yang berani. Berantas aturan yang merugikan! Jangan biarkan keringat dan air mata rakyat Indonesia dieksploitasi oleh pihak-pihak yang tertawa di atas penderitaan orang banyak," ucapnya penuh emosi.
"May Day jangan dijadikan alat permainan atau seremoni kosong. Ini soal harkat dan martabat manusia. Negara harus kembali pada tujuan kemerdekaan: MEMANUSIAKAN MANUSIA!" pungkasnya tegas dan membara.
Publisher : TIM/RED
Penulis : TIM REDAKSI

0 Komentar