NASIBMU GURUKU: DI NEGERI KAYA RAYA, HIDUP GURU HONORER SEMAKIN TERHIMPIT GONGSI RUPIAH, PROF. SUTAN NASOMAL: PRESIDEN HARUS TURUN TANGAN!

Tipikornews.com JAKARTA – Indonesia dikenal luas sebagai negeri yang makmur, tanah yang kaya raya dengan segala kekayaan alam dan sumber daya yang melimpah. Namun, di balik gemerlap kekayaan itu, ada sisi kelam yang terus menganga, sebuah ironi besar yang menyayat hati dan memalukan sejarah bangsa. Nasib ribuan guru honorer, pahlawan tanpa tanda jasa yang berjasa mencerdaskan anak bangsa, nyatanya masih jauh dari kata sejahtera, bahkan kini semakin terpuruk seiring melemahnya nilai tukar Rupiah yang membuat hidup mereka semakin sempit dan penuh derita.
 
Kenyataan pahit ini disampaikan secara mendalam dan penuh keprihatinan oleh Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH., MH., Pakar Hukum Internasional, Ekonom Nasional, sekaligus Presiden Partai Koalisi Rakyat Indonesia dan Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia, dalam keterangannya kepada media, Kamis (21/05/2026).
 
Suara lirih namun penuh penekanan dari Prof. Sutan menggambarkan betapa mirisnya kondisi para pengajar di negeri ini. Puluhan tahun telah berlalu sejak kemerdekaan dikumandangkan, namun nasib para guru honorer dan tenaga pendidik paruh waktu masih tertahan di titik yang sama: keprihatinan. Di tengah harga kebutuhan pokok yang melonjak dan nilai Rupiah yang terus tergerus, penghasilan mereka yang pas-pasan kini nyaris tak lagi cukup sekadar untuk bertahan hidup.
 
“Nasibmu guruku, gurumu, guru kita semua… Sejak dulu hingga kini sangat menyedihkan, sangat memprihatinkan, dan membuat siapa saja yang mendengarnya merasa nelangsa. Indonesia adalah negara kaya, negara makmur, tapi apa kenyataannya? Kesejahteraan di negeri tercinta ini masih sangat ironis. Puluhan tahun berlalu, ribuan guru honorer masih berjuang dengan perut kosong dan kantong kering. Dampak melemahnya Rupiah membuat beban mereka berlipat ganda. Untuk makan sehari-hari saja sudah sulit terpenuhi, apalagi menabung atau memiliki masa depan yang pasti,” ungkap Prof. Sutan dengan nada haru.
 
Lebih jauh, ia menyoroti betapa tidak masuk akalnya realitas yang terjadi. Di negara yang mengklaim kaya raya, mencari pekerjaan dengan penghasilan layak saja sulit, apalagi bagi mereka yang memilih jalan mulia menjadi guru honorer. Sering kali, honor yang diterima jauh di bawah standar kelayakan, bahkan jauh di bawah upah buruh kasar. Situasi ini, menurutnya, perlahan namun pasti menciptakan krisis besar: krisis keberlangsungan pendidikan dan hilangnya minat generasi muda untuk mengabdi di dunia pendidikan.
 
“Bayangkan, gaji atau honor yang diterima jauh panggang dari api. Ada pepatah lama berkata ‘dari kuda gigit besi hingga kini gigit keju dan roti’, dunia berubah begitu canggih dan maju, bahkan teknologi bisa terbang ke angkasa. Tapi lihatlah nasib guru: mereka yang mengajar anak-anak dari tidak bisa baca hingga pandai, mereka yang melahirkan pejabat, gubernur, hingga Presiden, justru hidupnya tertinggal jauh di belakang. Gaji guru masih di bawah gaji buruh. Ini ironi yang luar biasa. Walaupun ada perbaikan lewat jalur PPPK, itu masih sangat jauh dari cukup dan butuh perhatian serius pemerintah, apa pun namanya,” paparnya dengan tegas.
 
Negara Kaya Raya Hanya Di Atas Kertas
 
Prof. Sutan Nasomal menyentil keras realitas kontradiktif bangsa ini. Menurutnya, sebutan “Negara Kaya Raya” seolah hanya ada di buku pelajaran dan majalah, namun tidak pernah benar-benar terasa manfaatnya oleh rakyat kecil. Keadilan sosial yang dicantumkan dalam lambang negara, kenyataannya masih menjadi jurang pemisah yang lebar.
 
“Negara kita kaya raya hanya dalam tulisan. Faktanya, kekayaan itu tidak berdampak luas bagi masyarakat. Keadilan sosial masih menjadi konflik yang belum selesai. Hidup masyarakat berat; makan sehari dua kali saja sudah dianggap beruntung. Negara yang katanya kaya ini justru menjadi pencetak buruh murah, gagal mencetak semangat wirausaha, dan gagal menyejahterakan rakyatnya. Buktinya, banyak warga kita yang tidak mampu memiliki rumah sendiri, harus mengontrak seumur hidup. Bahkan ada kisah memilukan tahun lalu: para guru terpaksa menjadi pemulung usai mengajar, demi menyambung hidup. Inilah catatan hitam sejarah kita terhadap para pejuang tanpa tanda jasa,” ungkapnya.
 
Padahal, sejarah peradaban dunia mencatat satu kebenaran mutlak: kemajuan sebuah bangsa lahir dari kualitas pendidikan, dan pendidikan itu lahir dari keringat dan kerja keras para guru. Tanpa guru, tidak ada pemimpin hebat, tidak ada ilmu pengetahuan, dan tidak ada kemajuan.
 
Karena itu, Prof. Sutan Nasomal mengajak seluruh pakar, ekonom, dan pengambil kebijakan untuk menjadikan HARKITNAS (Hari Kesadaran Nasional) sebagai momen gerakan satu komando. Ia mendesak Presiden Republik Indonesia untuk turun tangan langsung, memprioritaskan nasib guru honorer, dan memastikan mereka diperlakukan mulia, terhormat, serta terjamin kebutuhan hidupnya.
 
“Kita harus bergerak bersama agar masyarakat lepas dari kemiskinan, dan agar Indonesia tidak terjebak menjadi negara pencetak kemiskinan terbesar di dunia. Pendidikan adalah kunci, dan gurulah pemegang kunci itu. Jangan biarkan mereka yang menerangi bangsa ini justru berjalan dalam kegelapan kemiskinan,” pungkas Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH., MH.
 
Narasumber:
Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH., MH.
(Pakar Hukum Internasional, Presiden Partai Koalisi Rakyat Indonesia, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia, Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS)
Call Center: 087719021960
 
(TIM REDAKSI)

0 Komentar