MIRIS SEKALI! DI SRAGEN, PADI DI SAWAH DICURI TIAP MALAM BUKAN KARENA JAHAT, TAPI KARENA LAPAR & TAK MAMPU BELI MAKANAN!

Tipikornews.com SRAGEN , JAWA TENGAH - Kondisi ekonomi makin memburuk, nilai tukar Rupiah terus terpuruk, dan dampaknya kini sudah terasa sampai ke urusan perut rakyat kecil. Sebuah kenyataan pahit dan memilukan terjadi di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Di sana, panen padi yang seharusnya menjadi harapan dan sumber penghidupan petani, justru menjadi sasaran empuk pencurian yang terjadi hampir setiap malam. Bukan karena niat jahat, melainkan karena rakyat semakin sulit membeli makanan dan terdesak kebutuhan hidup hingga ke titik batas.

Fakta yang menyayat hati ini disampaikan langsung oleh Prof Dr Sutan Nasomal SH, MH, Pakar Hukum Internasional sekaligus Ekonom, yang juga menjabat sebagai Presiden Partai Koalisi Rakyat Indonesia dan Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia, dalam keterangannya kepada para pemimpin redaksi media massa dalam dan luar negeri dari kantor pusatnya di kawasan Cijantung, Jakarta, Rabu (27/5/2026).
 
“Yth Bapak Presidenku, Presidenmu, Presiden kita semua, Jenderal Haji Prabowo Subianto… Tolong Pak! Kondisi ekonomi kita makin hari makin parah dan kritis. Banyak perusahaan gulung tikar dan bangkrut, ekonomi rakyat jungkir balik, hingga tak sedikit yang nyaris kelaparan. Akibatnya, padi dan gabah di sawah pun tidak luput, diambil orang diam-diam di malam hari hanya agar keluarganya bisa makan dan tidak mati kelaparan. Sungguh, perekonomian negara saat ini nyaris mandek dan tidak bergerak sama sekali,” ungkap Prof Sutan dengan nada penuh keprihatinan dan desakan.
 
GEJALA KRISIS YANG NYATA DAN TERASA DI TENGAH MASYARAKAT
 
Menurut penjelasan mendalam Prof Sutan Nasomal, melemahnya nilai Rupiah bukan sekadar data statistik atau angka di layar bursa keuangan, melainkan derita nyata yang harus ditanggung jutaan rakyat Indonesia. Di wilayah Jawa Tengah khususnya, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK terjadi secara besar-besaran di banyak perusahaan industri besar dan menengah, membuat ribuan kepala keluarga kehilangan sumber pendapatan sepenuhnya.
 
“Kami sangat sedih dan prihatin menyaksikan kenyataan ini. Banyak orang kehilangan pekerjaan, sehingga kemampuan membeli rakyat runtuh total. Pasar-pasar tradisional yang biasanya ramai, kini menjadi sepi pengunjung. Mengapa? Karena semua harga barang dan kebutuhan pokok melonjak drastis, ‘berpindah angka’ menjadi sangat mahal dan tidak terjangkau lagi oleh kantong rakyat biasa. Hidup terasa begitu berat dan menyakitkan,” jelasnya.
 
Ia juga menegaskan bahwa akar utama dari masalah ekonomi yang runcing ini adalah kegagalan pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional dan ketidakmampuan menahan laju penurunan daya beli masyarakat.
 
“Apa yang tersisa dari rakyat? Tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun kini sudah habis semua hanya untuk sekadar bernapas dan bertahan hidup. Bahkan yang lebih menyedihkan, banyak yang kini terjerat utang ke sana-sini, berhutang hanya demi mendapatkan sepiring nasi untuk makan sehari-hari. Ini adalah fakta kelam yang sedang terjadi di negeri kita,” tambahnya dengan tegas.


KEMANA LAPORAN INI PERGESER? APA TIDAK ADA YANG MELAPORKAN KE PRESIDEN?
 
Prof Dr Sutan Nasomal juga melontarkan pertanyaan tajam dan kritis yang menggambarkan keprihatinan banyak pihak. Bagaimana mungkin kesulitan dan penderitaan yang sudah meluas sedemikian rupa ini tidak pernah ada dalam laporan resmi yang sampai ke meja kerja Presiden Republik Indonesia?
 
“Sungguh kami heran dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin kondisi asli masyarakat yang sedang tergolek sakit dan menderita ini tidak ada satu pun laporannya di meja Bapak Presiden? Padahal nyatanya, hampir seluruh sektor kehidupan masyarakat sedang terbebani dan tertekan hebat akibat terus melemahnya nilai Rupiah. Krisis ekonomi ini menjadi penyebab utama kebangkrutan rumah tangga dan masyarakat luas, sehingga roda perekonomian bangsa ini seolah lumpuh dan tidak mampu berputar lagi,” tegasnya.
 
Sangat ironis dan menyayat hati, kata Prof Sutan lebih lanjut, bahwa Indonesia adalah negara yang sangat kaya raya dengan sumber daya alam dan hasil bumi yang melimpah ruah, namun rakyatnya sendiri harus hidup dalam kesusahan dan terpaksa mengambil hak milik orang lain, mencuri padi di sawah, hanya demi bisa bertahan hidup dan makan sehari-hari.
 
SERUAN MENDESAK KEPADA PEMERINTAH DAN PRESIDEN PRABOWO
 
Menyikapi kondisi yang sangat gawat ini, Prof Dr Sutan Nasomal secara resmi mendesak dan meminta kepada Pemerintah Republik Indonesia agar bekerja jauh lebih keras, fokus, dan serius untuk segera menyelamatkan bangsa dan negara ini dari jurang kehancuran ekonomi. Ia juga mengemukakan langkah-langkah strategis yang harus segera dilaksanakan tanpa menunda lagi:
 
Segera memperkuat dan menstabilkan kembali nilai tukar Rupiah, agar tekanan biaya hidup dan kenaikan harga dapat segera dikendalikan dan diturunkan.
Menstabilkan harga-harga kebutuhan pokok dan barang kebutuhan sehari-hari, agar kembali terjangkau dan bisa dibeli oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Menciptakan lapangan pekerjaan yang layak, luas, dan merata, sehingga rakyat memiliki penghasilan yang jelas dan kemampuan membeli kebutuhan hidup sendiri secara terhormat.
 
“Negara yang begitu kaya raya seperti Indonesia ini, seharusnya rakyatnya hidup makmur, sejahtera, dan berkeadilan, bukan hidup dalam ketakutan dan kesulitan yang memaksa mereka berbuat hal yang tidak semestinya hanya demi perut. Kami sangat berharap dan menaruh harapan besar kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto agar mampu hadir menolong, memimpin, dan membawa bangsa ini segera keluar dari krisis besar yang sedang melanda,” tutupnya dengan penuh harapan dan serius.
 
 
 
Narasumber:
Prof Dr Sutan Nasomal SH, MH
 
Pakar Hukum Internasional & Ekonom
Presiden Partai Koalisi Rakyat Indonesia
Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia / Association Of Young Indonesian Advocates
Call Center: 087719021960
 
#KrisisEkonomi #NilaiTukarRupiah #Sragen #JawaTengah #KetahananPangan #PrabowoSubianto #EkonomiKerakyatan #BeritaTerkini #BeritaPenting #KoalisiRakyatIndonesia


0 Komentar