AMARAH PUNCAT: MASYARAKAT KONAWE UTARA GERUDUK PLN UP3 KENDARI — STROM TAK STABIL RUSAK ASET, TAK ADA TANGGUNG JAWAB

Tipikornews.com Kendari Sulawesi Tenggara, 13 MEI 2026 - Kesabaran masyarakat Kabupaten Konawe Utara akhirnya habis. Berbulan-bulan menanggung derita akibat pasokan listrik yang kacau balau, tegangan naik-turun tak menentu, dan kerusakan ratusan peralatan elektronik, warga akhirnya turun ke jalan. Rabu siang ini, ratusan massa bergerak mendatangi dan menggeruduk Kantor PLN UP3 Kendari, menuntut pertanggungjawaban tegas, solusi nyata, dan perbaikan total layanan yang dinilai sangat buruk dan merugikan.
 
Dengan membawa spanduk bertuliskan protes dan meneriakkan tuntutan lantang, massa memenuhi halaman kantor PLN. Suara kemarahan ini adalah jawaban nyata atas kondisi kelistrikan di Konawe Utara yang kian hari kian memprihatinkan: tak hanya sering padam mendadak, arus listrik yang tak stabil itu terbukti menjadi penyebab utama kerusakan alat-alat rumah tangga dan perangkat usaha warga  mulai dari televisi, kulkas, mesin cuci, pompa air, hingga mesin produksi pelaku usaha kecil  yang rusak satu per satu tanpa ada kejelasan ganti rugi dari pihak pengelola.
 
Hendrik, salah satu koordinator aksi, menyuarakan kemarahan mendalam mewakili seluruh warga yang terdampak. Ia menegaskan, masyarakat membayar iuran listrik tepat waktu dan lengkap, namun yang didapat justru pelayanan buruk dan kerugian beruntun.
 
“Kami bayar lunak, kami bayar tepat waktu, tapi strom kami kacau terus. Tegangan naik turun seenaknya, bikin alat elektronik kami hancur lebur. Ini bukan kerugian receh, Pak! Televisi, kulkas, mesin usaha semuanya rusak. Kami dipaksa rugi sendiri, sementara PLN seolah tuli dan tutup mata. Jangan jadikan warga Konawe Utara korban terus-menerus!” seru Hendrik dengan nada tinggi dan tegas di hadapan massa.
 
Ia menyoroti ketidakadilan yang dirasakan: selama ini kerusakan aset warga diabaikan, tak ada penjelasan, tak ada ganti rugi, tak ada perbaikan jaringan yang berarti. Padahal, masalah ini terjadi hampir setiap hari dan meluas ke seluruh wilayah kecamatan di Konawe Utara.
 
“Kalau PLN merasa tidak mampu mengelola dan memberikan layanan layak, jangan biarkan kami terus dirugikan. Kami sudah terlalu lama bersabar, tapi kesabaran itu ada batasnya. Kami minta tanggung jawab nyata, bukan janji manis saja,” tegasnya.


Dalam tuntutan resmi yang disampaikan, masyarakat menuntut tiga hal pokok:
 
1. Perbaikan total jaringan listrik dan jaminan kestabilan arus di seluruh wilayah Konawe Utara;
2. Transparansi penuh atas penyebab mendasar gangguan yang terus berulang;
3. Tanggung jawab dan penyelesaian hak ganti rugi atas seluruh kerusakan alat dan kerugian ekonomi yang diderita warga.
 
Situasi sempat berlangsung sangat tegang, massa bersikeras menolak beranjak sebelum ada kepastian. Akhirnya, manajemen PLN UP3 Kendari bersedia menerima perwakilan warga untuk dialog tertutup dan menyerap aspirasi tersebut.
 
Namun masyarakat memberi peringatan keras: ini bukan aksi sesaat. Jika hingga batas waktu yang disepakati tidak ada langkah konkret dan perubahan nyata, massa berjanji akan kembali dengan kekuatan yang jauh lebih besar.
 
“Masalah ini harus selesai sekarang juga. Kalau masih sama saja, kami akan kembali dengan ribuan warga. Kami tidak main-main, kami minta hak kami sebagai konsumen dilayani dengan benar dan bertanggung jawab,” pungkas Hendrik, diiringi sorak dukungan massa.
 
Aksi ini menjadi bukti nyata bahwa kekecewaan publik terhadap kualitas layanan kelistrikan sudah mencapai titik didih. Mata publik kini tertuju pada langkah PLN: apakah mampu menjawab tuntutan warga atau justru memicu gelombang protes yang lebih besar lagi?


Iman P

0 Komentar