Tipikornews.com MAKASSAR Sulawesi Selatan – Di tengah terik matahari Kota Daeng yang membakar kulit, api kemarahan rakyat justru berkobar jauh lebih panas dan dahsyat. Kebutuhan paling dasar kehidupan, air bersih, kini berubah menjadi sumber derita panjang bagi ribuan warga Makassar. Krisis air yang tak kunjung usai, keran kering kerontang di setiap sudut kota, beradu ironi dengan surat tagihan rekening yang tetap mengalir deras ke rumah-rumah warga seolah tak ada masalah apa pun. Keadilan pelayanan publik telah tercabik, dan kini rakyat angkat suara dengan lantang: CUKUP!
Dewan Pengurus Pusat LSM GEMPAK-HAM berdiri di garda terdepan menyuarakan jerit hati masyarakat, secara resmi mengumumkan gelaran aksi besar-besaran yang akan mengguncang Balaikota Makassar pada Jumat, 22 Mei 2026. Lebih dari 200 massa diperkirakan akan memadati halaman Kantor Balaikota hingga ke Kantor Pusat PDAM, membawa semangat protes yang tak lagi bisa dibendung, menuntut pertanggungjawaban penuh atas kegagalan pelayanan yang menyiksa rakyat ini.
Seruan aksi yang menyebar luas bak kilat di ruang publik dan media sosial, memuat kritik tajam yang menohok langsung ke jantung masalah. "Sungguh menyakitkan dan tidak berakal sehat. Warga menjerit kehausan, berdesak-desakan mencari air setetes pun untuk bertahan hidup, namun tagihan tetap datang utuh, angka tetap sama, seolah air mengalir deras setiap saat. Ini bukan pelayanan, ini penindasan berkedok aturan," tulis tegas dalam poin sikap GEMPAK-HAM.
Tuntutan yang disampaikan sangat lugas, tegas, dan tak memberi ruang bagi pengelakan. GEMPAK-HAM mendesak Wali Kota serta Wakil Wali Kota Makassar selaku pemegang kendali tertinggi kebijakan kota, untuk segera mengambil langkah tegas: Bersihkan dan evaluasi total jajaran Direksi PDAM Makassar. Dinilai gagal total, manajemen saat ini dianggap telah mati rasa terhadap derita warga, tidak mampu menghadirkan distribusi air yang layak, dan mengelola aset vital ini dengan penuh kebobrokan.
Lebih jauh lagi, massa menuntut audit besar-besaran, terbuka, dan transparan terhadap seluruh sistem kerja, keuangan, hingga jaringan pipa yang ada. Dugaan kuat adanya maladministrasi, kebocoran pengelolaan, hingga ketidakberesan yang membiarkan ribuan warga kekeringan, harus dibongkar habis sampai ke akar-akarnya.
"AIR MATI, RAKYAT MENJERIT! KAMI SIAP MENGEPUNG BALAIKOTA DAN MEMBONGKAR SEGALA KEBUSUKAN YANG MENJADIKAN PDAM MAKASSAR TAK BERGUNA BAGI RAKYAT!" tegas pernyataan sikap mereka dengan nada menggelegar.
Namun, ultimatum paling keras dan memukul telak ditujukan langsung kepada pimpinan daerah. GEMPAK-HAM secara terang-terangan memberikan pilihan sulit namun nyata: "Kalau tak mampu urus air, MUNDUR! Jangan duduk manis di kursi jabatan sementara rakyat di bawah menderita. Jika Wali Kota dan Wakil Wali Kota tak punya solusi nyata, tak mampu mengatasi masalah paling dasar ini, berikan jalan kepada mereka yang sanggup bertanggung jawab."
Selain pergantian pemimpin dan audit menyeluruh, keadilan harus dibayar tuntas. Massa menuntut adanya kompensasi layak serta pemotongan tagihan rekening secara massal bagi seluruh warga yang berbulan-bulan tak mendapatkan setetes pun pelayanan air. Prinsipnya jelas: Tidak ada pembayaran untuk layanan yang tidak diterima.
Aksi ini diprediksi menjadi titik balik sejarah demokrasi dan pelayanan publik di Makassar. Pasalnya, ini menyangkut hak hidup, urat nadi keberlangsungan manusia. Rakyat sudah tak lagi mau mendengar janji manis atau alasan berbelit-belit.
"Jangan tunggu amarah rakyat meledak lebih dahsyat lagi. Air adalah kebutuhan utama, hak mutlak setiap warga negara, bukan sekadar gula-gula politik. Saatnya bertindak nyata, saatnya bertanggung jawab, atau bersiaplah menghadapi gelombang amarah rakyat yang siap menampar keras wajah pemerintahan ini," pungkas GEMPAK-HAM dengan tegas dan tak tergoyahkan.
(Baramakassar_)

0 Komentar