Tipikornews.com PALANGKA RAYA – Bumi Tambun Bungai kini sedang ditikam secara perlahan. Peredaran gelap merkuri yang meracuni sungai dan merusak kesehatan masyarakat Kalimantan Tengah dinilai sudah mencapai tahap kritis. Menyikapi hal ini, Pakar Hukum Pidana Internasional, Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH., MH., melontarkan kritik pedas atas kebisuan yang mencurigakan. Kamis (10/5/2026).
Dalam pandangannya yang tajam, Prof. Sutan menyoroti minimnya pergerakan nyata dari organisasi masyarakat (Ormas), khususnya Ormas Adat Dayak, serta para aktivis lingkungan. Seharusnya mereka menjadi garda terdepan, namun justru terlihat diam di tengah bencana ekologis yang terjadi.
"Saya melihat keheningan yang sangat mengkhawatirkan. Di saat sungai-sungai kita mati keracunan, di saat rakyat sakit, suara perlawanan dari mereka yang seharusnya berteriak justru seolah tenggelam dan dibungkam. Ini tidak bisa dibiarkan," ujar Prof. Sutan dengan nada geram.
"INI BUKAN SEKADAR PENCEMARAN, TAPI GENOSIDA PERLAHAN"
Kritikan keras ini sejalan dengan gerakan massa yang mulai bergema, tertuang dalam visual poster aksi yang viral. Poster tersebut menyerukan satu suara yang bulat dan tegas: "STOP PEREDARAN GELAP MERKURI!"
Dengan ilustrasi yang menggambarkan semangat perlawanan, poster tersebut menampar kesadaran publik bahwa racun ini telah menginfeksi nadi kehidupan masyarakat Kalteng.
Tuntutan yang tertulis sangat jelas dan memilukan:
- “SUNGAI KAHAYAN, KAPUAS, BARITO, KATINGAN, MENTAYA TERCEMAR PARAH!”
- “LINDUNGI GENERASI DEPAN DARI RACUN MEMATIKAN!”
- “HENTIKAN MAFIA MERKURI SEKARANG JUGA!”
- “HAKIMI BERAT PENGEDAR B3 DAN CUKONG!”
Yang paling menyayat hati adalah narasi yang tertulis: "GENOSIDA PERLAHAN MASYARAKAT KALTENG". Ini menegaskan bahwa apa yang terjadi bukan sekadar pelanggaran lingkungan, melainkan upaya pembunuhan sistematis terhadap rakyat dan tanah leluhur.
SOROTI MAFIA DI BALIK LAYAR: JANGAN HANYA MEMUKUL YANG KECIL
Prof. Sutan menekankan bahwa penambang kecil di lapangan seringkali hanyalah korban dan alat. Musuh sesungguhnya adalah "mafia besar", pemilik modal, dan penguasa gudang yang mengendalikan aliran logam berat tersebut.
Visualisasi dalam poster juga memperlihatkan dengan gamblang adanya "GUDANG PENYIMPANAN & DISTRIBUTOR ILEGAL", di mana transaksi gelap diduga melibatkan oknum dan cukong, sementara hutan rusak dan sungai menjadi kubangan racun.
"Ormas dan aktivis harus berani 'angkat bicara' dan menunjuk siapa rajanya. Jangan takut membongkar jaringan distribusi, pemilik gudang, dan para dalang di balik layar. Jangan biarkan mereka mengeruk kekayaan alam di atas penderitaan rakyat," tegas mantan Dekan Fakultas Hukum ini.
BANGKITKAN SEMANGAT RUMAH BETANG: SUNGAIKU ADALAH NYAWAKU!
Di akhir pernyataannya, Prof. Sutan Nasomal menyerukan agar filosofi persatuan dan keberanian Rumah Betang kembali dibangkitkan untuk melawan kejahatan lingkungan ini.
"Filosofi kita berkata: Sungaiku adalah nyawaku, tanaku adalah darahku. Jika kita diam hari ini, sama saja kita membiarkan pembunuhan berencana terhadap anak cucu kita. Saatnya semua elemen bangkit, bersatu, dan berteriak lantang: Hentikan merkuri ilegal, hukum mati para mafia!" pungkasnya.
Narasumber : Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH., MH.
Redaksi

0 Komentar