Tipikornews.com Jakarta, 11 Maret 2026 – Prof Dr Sutan Nasomal SH, MH, PhD, Komentator Dunia Internasional, Pakar Hukum Pidana Internasional sekaligus Presiden Partai Koalisi Rakyat Indonesia, mengimbau Presiden RI Prabowo Subianto agar secara bijak menyikapi wacana peralihan 120 juta motor berbahan bakar minyak (BBM) ke motor listrik. Menurutnya, langkah tersebut perlu dipertimbangkan matang-matang dengan dukungan edukasi dari tim ahli teknologi mesin dan motor listrik untuk menghindari kerugian besar bagi negara dan masyarakat.
Dalam temu wicara dengan redaksi media cetak dan daring dalam negeri serta luar negeri di Markas Pusat Partai Koalisi Rakyat Indonesia, Cijantung Jakarta, Prof Sutan menyampaikan bahwa motor listrik saat ini masih menghadapi berbagai tantangan yang tidak sesuai dengan kondisi geografis dan ekonomi Indonesia. "BBM telah lama menjadi energi utama untuk motor di negara kita, sementara listrik memiliki keterbatasan jarak tempuh dan efisiensi yang perlu dipertimbangkan secara mendalam," ujarnya.
Ia menegaskan perlunya adanya hak perlindungan konsumen, mengingat teknologi listrik masih memiliki banyak kelemahan. Motor listrik dinilai tidak cocok untuk lintasan pegunungan yang menyumbang 40% jalan raya Indonesia karena kurang bertenaga, boros energi, mudah mogok saat menanjak, serta berisiko overheat saat macet.
Masalah lain yang dikemukakan adalah waktu pengisian daya yang lama (lebih dari 3 jam), sementara sistem tukar sewa baterai berpotensi menimbulkan masalah baru terkait kualitas baterai dan risiko kebakaran. Selain itu, Indonesia belum memiliki sistem daur ulang baterai nikel yang memadai, sehingga limbah baterai berpotensi merusak ekosistem alam.
"Negara maju seperti Jepang dan Jerman pun belum sepenuhnya memproduksi motor listrik karena kualitas dan kekuatan yang belum terjamin. Hal ini juga berdampak pada ketidakmampuan pihak asuransi dan perbankan untuk memberikan jaminan serta kredit yang layak," jelas Prof Sutan.
Menurutnya, kelemahan utama motor listrik antara lain:
- Baterai boros dan perlu diisi ulang secara berkala
- Jarak tempuh terbatas dan rentan rusak pada perjalanan jauh
- Tenaga mesin kalah unggul dibanding motor bensin
- Infrastruktur pengisian daya masih terbatas di banyak daerah
- Waktu pengisian yang memakan waktu lama
Prof Sutan menambahkan bahwa kondisi ekonomi masyarakat Indonesia juga perlu dipertimbangkan, mengingat 60% penduduk memiliki penghasilan di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Kendaraan hybrid yang lebih tangguh saat ini memiliki harga yang sangat mahal dan tidak terjangkau bagi sebagian besar masyarakat.
"Oleh karena itu, sangat penting bagi tim pakar teknologi kendaraan memberikan edukasi kepada Presiden RI agar tidak meneruskan wacana peralihan motor listrik secara sepihak. Tujuan utama adalah agar masyarakat dan negara tidak mengalami kerugian yang tidak perlu," pungkasnya.
Narasumber:
Prof Dr Sutan Nasomal SH, MH, PhD
Komentator Dunia Internasional
Pakar Hukum Pidana Internasional
Presiden Partai Koalisi Rakyat Indonesia
Jenderal Kompii Pimpinan/Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS

0 Komentar