Tipikornews.com Jakarta, 11 Januari 2026 – Prof Dr Sutan Nasomal, Pakar Hukum Internasional sekaligus Presiden Partai Oposisi Merdeka, mengeluarkan seruan yang indah namun tajam kepada Presiden Jenderal H. Prabowo Subianto: bangsa Indonesia harus segera menyadari bahwa "reaksi alam" yang kini melanda bukan sekadar kejadian tak terduga, melainkan konsekuensi dari kelalaian dan ketidakmampuan pejabat untuk menjalankan tupoksi dengan disiplin ilmu. Fenomena hujan mikroplastik yang mulai terdeteksi di berbagai wilayah menjadi bukti nyata bahwa bencana alam telah memasuki babak baru yang lebih mengancam.
"Banyak pejabat, termasuk menteri dan jajaran eselon tinggi lainnya, tidak memahami makna sebenarnya dari jabatan yang diembannya. Alih-alih menyempurnakan program kerja yang sudah berjalan dan memastikannya berjalan lancar, mereka lebih suka membuat 'terobosan' baru dengan cara merombak program yang ada – bahkan membawanya kembali ke titik nol. Akibatnya, bukan terobosan yang tercipta, melainkan kegaduhan yang menggoyahkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah," tegasnya saat berbincang dengan para pemimpin redaksi media cetak dan daring di Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka.
"Saya dengan segala hormat meminta Bapak Presiden untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh menteri, wakil menteri, dan direktur jenderal. Penempatan pejabat harus sesuai dengan keahlian dan tupoksi masing-masing. Hanya dengan demikian, negara kita akan benar-benar aman dan nyaman menghadapi segala kendala dan permasalahan yang ada. Rakyat Indonesia yakin pemerintah bisa bekerja dengan baik jika para pelaksananya mampu dan sesuai dengan bidangnya," tambahnya.
80 Tahun Merdeka: Saatnya Jawab Tantangan Bencana Alam
Dalam momen berdirinya negara yang telah merdeka selama 80 tahun – sebuah perjalanan panjang yang penuh harapan bagi masa depan bangsa – Prof Dr Sutan Nasomal mengingatkan bahwa tanah, air, dan udara sebagai aset negara yang diamanatkan oleh undang-undang untuk kesejahteraan masyarakat luas, kini terancam parah. Ia menegaskan bahwa hal ini tidak terlepas dari kebijakan yang dibuat oleh mereka yang tidak memiliki pemahaman tentang risiko analisis dampak terhadap alam.
"Saat ini dunia informasi global telah mengkonfirmasi adanya hujan yang mengandung mikroplastik di beberapa wilayah dan kota di Indonesia. Pertanyaan kita adalah: mengapa hal ini bisa terjadi? Secara ilmiah, mikroplastik yang ada di udara berasal dari berbagai sumber limbah plastik yang mencemari lingkungan, sementara air laut kita juga telah tercemar plastik dalam jumlah yang luar biasa. Singkatnya, udara yang kita hirup, tanah yang kita garap, dan air yang kita minum telah terkontaminasi plastik dengan tingkat yang sangat serius dan berbahaya – dan kondisi ini telah dibiarkan berkembang tanpa tindakan tegas dari pemerintah," paparnya.
Menurutnya, sejak tahun 1970 plastik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas ekonomi global, namun tidak ada upaya yang cukup untuk memperingatkan akan dampak penggunaan skala besarnya. Plastik yang membutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun untuk terurai telah merusak ekosistem dengan kecepatan yang luar biasa. Bahkan sejak tahun 1990, para ahli lingkungan hidup telah menyuarakan bahayanya, namun suaranya tidak pernah mendapatkan perhatian yang layak dari para pemangku keputusan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
"Plastik telah bertransformasi dari barang yang bermanfaat menjadi bencana yang mengancam kelangsungan hidup. Inilah sebabnya mengapa kini kita menghadapi hujan mikroplastik. Ditambah lagi dengan penggunaan styrofoam yang tidak bisa dibatasi sejak tahun 2000 hingga saat ini – sampahnya menumpuk di sungai, mengalir ke laut, dan terkubur di dalam tanah. Air hujan yang turun membawa kontaminan ini ke dalam sumber air tanah, menjadikannya berbahaya dan beracun. Limbah industri dan perumahan yang terus mengalir ke sungai dan laut semakin memperparah kondisi – jika tidak ada perubahan, dalam 100 tahun ke depan sungai dan laut Indonesia akan hancur total," jelasnya.
Kehidupan di dalam laut juga berada di ambang kepunahan. Gundukan sampah plastik yang semakin membesar akan menghancurkan ekosistem laut, membuat makanan bagi biota laut hilang, dan pada akhirnya menyebabkan kematian masal ikan sebagai sumber protein utama masyarakat.
Kemajuan Tanpa Kontrol: Udara Beracun dan Tanah yang RuntuhPeriode tahun 1970 hingga 2025 yang membawa kemajuan teknologi yang pesat, kata Prof Dr Sutan Nasomal, telah berjalan tanpa pengawasan yang memadai. Pertumbuhan penduduk yang cepat mendorong peningkatan produksi kendaraan dan pengembangan energi, namun tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan jangka panjang.
"Saya ingin seluruh tim media mencatat dengan jelas pada tahun 2026 ini: jika tidak ada tindakan drastis, tidak sampai 10 tahun ke depan udara di langit kita akan mencapai tingkat sangat beracun. Di kota-kota padat penduduk di seluruh dunia, lebih dari 15 juta kendaraan digunakan setiap hari, menghasilkan emisi beracun yang tidak bisa dikendalikan. Akibatnya, masyarakat terpaksa bernapas udara yang membahayakan kesehatan selama 24 jam – meningkatkan risiko penyakit serius bagi semua kalangan usia, dari anak-anak hingga orang dewasa," peringatnya dengan nada tegas.
Ia menegaskan bahwa penempatan pejabat yang tidak sesuai dengan keahlian adalah salah satu akar masalah utama. "Bumi adalah sistem yang sangat halus. Ia hanya akan memberikan reaksi ketika keseimbangannya terganggu. Bencana alam yang kita alami saat ini adalah peringatan alam yang tak bisa kita abaikan lagi – ia muncul ketika perbuatan merusak telah meluas dan tidak terkendali," ucapnya.
Prof Dr Sutan Nasomal juga mengangkat masalah penurunan tanah di kota-kota pesisir akibat kesalahan dalam perencanaan tata ruang. Menurutnya, berdasarkan kebijakan pembangunan yang telah terbukti efektif pada masa Kerajaan Padjadjaran, kota seharusnya berada minimal 75 km dari bibir pantai – mengingat gempa laut besar dapat menyebabkan gelombang pasang yang memasuki daratan sejauh 40 km.
"Kota-kota modern kini menjadi hutan beton yang menjulang tinggi, dengan beban berat yang membuat tanah menurun rata-rata 15 meter dalam kurun waktu 50 tahun. Berkurangnya luas hutan membuat air tidak bisa terserap dengan baik, sehingga menyebabkan kekosongan di dalam tanah dan membuat lapisan tanah yang telah terbentuk selama ribuan tahun menjadi keropos dan lemah. Kandungan hayati tanah pun menghilang, sementara getaran dari mesin kendaraan dan industri terus menerus memberikan tekanan tambahan pada struktur tanah," jelasnya.
Hutan yang Harus Jadi Penyelamat, Bukan Sumber Masalah
Kerusakan hutan yang meluas di berbagai daerah, kata Prof Dr Sutan Nasomal, bukanlah hal yang tidak disengaja. Alih fungsi hutan alami menjadi perkebunan sawit – keputusan yang diambil di masa lalu ,kini memberikan konsekuensi berat dengan munculnya bencana alam di 3 provinsi, dengan potensi yang lebih parah di daerah lain.
"Hutan seharusnya menjadi sumber kehidupan bagi kita semua: sebagai pabrik oksigen yang menyediakan udara bersih bagi paru-paru manusia, sebagai tempat penyimpanan air yang menjamin ketersediaan air bersih, sebagai sumber benih tumbuhan yang beragam, sebagai gudang obat herbal yang aman, sebagai rumah bagi berbagai jenis hewan, dan sebagai sumber makanan terbaik bagi manusia. Namun sayangnya, kini ia justru menjadi sumber masalah yang mengancam kelangsungan hidup kita," tandasnya.
Ia menekankan bahwa alam memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menanggapi setiap perbuatan manusia – dengan cara yang seringkali tidak terduga dan dengan daya hancur yang sangat besar. "Jika dalam beberapa tahun kedepan hujan benar-benar berubah menjadi racun, maka kita tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk melakukan perbaikan cepat. Perbaikan yang dibutuhkan akan memakan waktu hingga 200 tahun dan menghabiskan biaya ribuan triliun rupiah – apakah ini yang ingin kita wariskan kepada anak cucu kita? Kehancuran yang disebabkan oleh kelalaian kita di masa sekarang?" tanyanya dengan nada penuh perhatian.
"Satunya-satunya jalan keluar adalah dengan mengambil langkah perbaikan yang tegas dan terencana. Dengan menerapkan ilmu keseimbangan alam secara konsisten, kita masih memiliki waktu untuk mencegah hal terburuk terjadi dan membangun masa depan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia," pungkas Prof Dr Sutan Nasomal SE,SH,MH.
Narasumber: Prof Dr Sutan Nasomal SE,SH,MH
Pakar Hukum Internasional & Presiden Partai Oposisi Merdeka
Timred


0 Komentar