Tipikornews.com KABUPATEN SOPPENG,Sulawesi Selatan , 23 JANUARI 2026 – Seolah menghalangi nyala api harapan bagi keluarga miskin, praktek penimbungan gas melon 3kg yang khusus diperuntukkan bagi warga tidak mampu di Kelurahan Appanang, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, terbongkar ke permukaan setelah wartawan melakukan pengecekan langsung ke lokasi yang berada di rumah milik Tassi 22-01-2026 sore.
Mobil Daihatsu Pick-up berlabel “Gran Max” yang dipakai sebagai tempat penyimpanan tampak memuat ratusan tabung gas lpj 3kg sebagian besar masih terpacak segel keamanan dari pabrik, seolah mengingatkan betapa banyaknya stok yang sengaja ditahan dari yang berhak menerimanya.
Ketika ditanya mengenai harga jual, pemilik yang mengaku bernama Bas mengutarakan angka yang membuat kesal: Rp25.000 per biji. Padahal saat wartawan berusaha membeli tiga tabung untuk seorang lansia yang sudah 4 hari tak bisa memasak akibat kehabisan gas, ia dengan tegas mengatakan “habis”. Bukti nyata mobil yang penuh sesak dengan tabung gas masih terlihat jelas di hadapan mata, namun alasan tersebut tetap dilontarkan seolah tidak ada apa-apa.
Tanya lagi apakah lokasi tersebut merupakan pangkalan gas resmi yang memiliki izin, jawaban Bas malah semakin mencolok: “Bukan pangkalan.” Kata-kata itu saja sudah cukup untuk mengkonfirmasi bahwa apa yang dilakukan bukan lagi bisnis biasa, melainkan tindakan penimbunan barang esensial yang menjadikan kebutuhan dasar masyarakat sebagai komoditas untuk meraih keuntungan pribadi.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan, (Koprindag) Kabupaten Soppeng, Andi Agus, dengan nada tegas menegaskan bahwa harga maksimum yang ditetapkan pemerintah untuk gas melon 3kg adalah Rp18.500 per biji. Setiap penjualan di atas angka tersebut bukan hanya kelalaian, melainkan pelanggaran yang harus mendapatkan konsekuensi tegas.“Kalau ada yang berani menjual di atas harga yang telah ditetapkan, silakan laporkan langsung ke kepolisian. Hanya pihak berwenang yang berhak mengambil tindakan hukum untuk menjaga keadilan bagi rakyat kecil,” tegas Andi Agus.
Warga Appanang yang sudah lama merasakan kekosongan gas di dapur mereka mengeluarkan desakan yang penuh emosi kepada kepolisian. Bagi mereka, setiap hari tanpa gas bukan hanya masalah tidak bisa memasak , melainkan soal kehormatan keluarga yang harus menahan lapar atau mencari cara-cara darurat untuk menghidupi diri.
“Kami sudah menunggu lama, sudah merasa tersisihkan. Harap polisi segera turun tangan agar nyala kompor kami bisa menyala kembali, agar kami bisa merasakan apa itu keadilan yang sesungguhnya,” ucap salah satu warga yang memilih untuk tidak menyebutkan nama, matanya penuh harapan akan keberanian pihak berwenang untuk bertindak.
Tim Bara Makassar


0 Komentar