Tipikornews.com Makassar, Sulawesi Selatan 07November 2025 – Ironi pedih mewarnai persiapan HUT ke-418 Kota Makassar. Alih-alih pesta rakyat, warga justru disuguhi pemandangan mengerikan: perang kelompok yang kembali pecah di area pekuburan. Kuburan, yang seharusnya menjadi tempat peristirahatan terakhir, kini menjadi saksi bisu brutalitas dan hilangnya akal sehat.
Kamis dini hari (6/11/2025), Pekuburan Beroanging, Kecamatan Tallo, menjadi medan pertempuran antara warga Kampung Sapiria dan Kampung Borta. Batu beterbangan, busur melesat, dan petasan meledak, menciptakan suasana mencekam yang membuat warga panik dan anak-anak menjerit ketakutan. Api bahkan sempat berkobar di permukiman padat, menambah horor malam itu.
"Setiap malam kami dihantui bunyi ledakan dan panah. Anak-anak takut keluar rumah. Polisi harus tegas!" ujar Abd Rahman Ocha, warga Tallo, dengan nada putus asa.
"Kado Pahit" untuk Kota yang Berulang Tahun
Humas PJI Sulsel, Zhoel SB, mengecam keras kejadian ini sebagai "kado pahit" yang mencoreng perayaan ulang tahun Makassar. Menurutnya, berulangnya kejadian serupa menunjukkan kelemahan sistem keamanan di tingkat akar masyarakat.
"Ini pekerjaan rumah besar bagi Kapolda Sulsel yang baru dilantik. Ini soal citra dan kenyamanan warga Makassar," tegas Zhoel.
Titik Api yang Tak Kunjung Padam
Tragisnya, Beroanging bukanlah satu-satunya titik konflik. Bentrok serupa juga masih terjadi di Lembo, Layang, dan Rappokalling, seolah Makassar memiliki jadwal rutin untuk perang kelompok. Aparat seakan hanya menjadi penonton setia dari drama kekerasan yang tak berkesudahan.
PJI Sulsel mendesak Kapolda untuk mengevaluasi kinerja Kapolrestabes Makassar, menyoroti ketidakefektifan penegakan hukum di wilayah-wilayah yang terus menjadi langganan bentrok.
Ulang tahun seharusnya dirayakan dengan damai dan doa, bukan dengan busur dan dendam. Makassar seharusnya menjadi kota yang menebar kebaikan, bukan api permusuhan.
Jangan biarkan "kado pahit" ini menjadi tradisi tahunan. Kota yang besar bukan diukur dari usianya, tetapi dari kemampuannya menciptakan rasa aman dan nyaman bagi seluruh warganya.
Negeri ini butuh tindakan nyata, bukan sekadar janji manis. Pemerintah dan aparat harus turun tangan, bukan hanya karena sorotan media, tetapi karena panggilan hati nurani. Rakyat Makassar mendambakan rasa aman yang benar-benar hidup di setiap sudut kota, bukan sekadar janji kosong yang menggema di pos ronda.
Tim

0 Komentar