-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dari Keramaian Pelataran Masjid Menjadi Sepi yang Membeku: Pedagang UMKM Soppeng Menderita Usai Dipindah ke Gapis, Desak Pemkab Kaji Ulang Kebijakan

Minggu, 21 Juni 2026 | Juni 21, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-22T03:15:57Z

Tipikornews.com Watansoppeng,Sulawesi Selatan, Senin 22 Juni 2026 - Dulu, saat senja turun dan lampu‑lampu mulai dinyalakan di pelataran Masjid Agung Darrusalam Watansoppeng, udara selalu hangat berbaur aroma makanan, tawa pembeli, dan tawar‑menawar yang riuh. Di sanalah puluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menggantungkan nasib; dari balik lapak sederhana mereka menghidupi anak‑istri, membayar sekolah, dan menambal kebutuhan hidup yang tak pernah berhenti datang. Semua berubah sejak kebijakan penataan kota memindahkan mereka ke kawasan Gapis. Kini, setiap sore hingga malam, lapak‑lapak itu berdiri rapi namun sunyi  sepi pengunjung, sepi suara jual‑beli, sepenuhnya berbanding terbalik dengan kenangan di tempat lama.

Pantauan langsung pada malam hari menampakkan pemandangan yang menyayat hati: para pedagang duduk bersandar di tiang atau berjalan pelan di depan lapak, menatap jalanan yang sepi. Ada yang melipat tangan di dada, ada yang menunduk diam, menunggu kedatangan pembeli yang makin jarang lewat. Keramaian yang dulu menjadi nafkah harian, berganti keheningan panjang yang perlahan menggerus pendapatan mereka.
 
Sepi, Gelap, dan Hujan: Beban Berat di Tempat Baru
 

Keluhan yang terdengar seragam dan berat bukan hanya masalah jumlah pembeli yang anjlok drastis. Di kawasan Gapis, kenyamanan berdagang dan berkunjung dirasakan hilang sama sekali. Saat awan mendung turun dan musim hujan tiba, lokasi ini terasa basah, berangin, dan kurang terlindungi. Belum lagi fasilitas penerangan yang minim: sebagian besar area tenggelam dalam remang dan gelap pekat begitu malam menjelang. Cahaya lampu jalan yang redup tak cukup membuat masyarakat berani dan betah berjalan‑jalan, apalagi berhenti membeli.
 
Kondisi inilah yang perlahan membuat warga enggan melintas, apalagi singgah. Tanpa suara gemuruh pembeli, tanpa cahaya yang menyambut, tanpa perlindungan saat hujan turun  nasib pedagang pun terancam.
 
“Sepi sekali di sini, tidak seperti dulu di pelataran masjid yang setiap malam ramai sekali. Sejak dipindah ke Gapis, omset turun drastis, jauh sekali bedanya. Kadang seharian atau semalaman hanya dapat sedikit, belum cukup belanja bahan baku lagi,” ujar salah seorang pedagang dengan suara lirih, meminta namanya tak disebut agar tidak menimbulkan masalah baru. Di matanya tersimpan kekhawatiran nyata: jika keadaan terus begini, bertahan pun akan semakin berat.
 
Relokasi ini semula dilakukan Pemerintah Kabupaten Soppeng atas alasan penataan kawasan kota agar lebih rapi, indah, dan tertib. Niatnya baik, namun di lapangan terasa ada celah besar antara rencana dan kenyataan hidup pedagang kecil yang tak punya cadangan modal tebal.
 
Kebijakan Harus Merangkul, Bukan Menggerus Mata Pencaharian
 

Kini desakan halus namun penuh keprihatinan mulai terdengar makin keras dari kalangan pedagang, keluarga, hingga warga sekitar: Pemerintah Kabupaten Soppeng perlu segera mengkaji ulang kebijakan pemindahan UMKM dari Taman Kalong/Pelataran Masjid Agung ke kawasan Gapis.
 
Penataan kota tak boleh berjalan pincang hingga mengorbankan mereka yang paling rentan dan rajin berjuang demi hidup. UMKM adalah urat nadi ekonomi rakyat, tempat jutaan warga bertumpu penghidupan; memindahkannya tanpa jaminan fasilitas memadai dan potensi kunjungan yang setara sama artinya mematikan perlahan harapan‑harapan kecil yang tumbuh di balik setiap lapak.
 
Selain mengkaji ulang lokasi, pedagang berharap perbaikan segera dilakukan: tambah penerangan yang terang merata, lengkapi perlindungan dari hujan dan panas, atur sirkulasi jalan yang nyaman bagi pejalan kaki, hingga kembali mendorong keramaian seperti di tempat asal.
 
“Kami tak menolak penataan, kami ingin tertib juga. Hanya saja, tolong jangan biarkan kami dagang di tempat gelap dan sepi begini. Kami ingin tetap bekerja, tetap memberi makan keluarga, tetap ada di sini,” tambah pedagang itu, sebelum kembali menoleh ke jalanan kosong, berharap ada langkah kaki yang berbelok mendekat.
 
Sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Kabupaten Soppeng. Namun pemandangan malam di kawasan Gapis menjadi pengingat sunyi: penataan kota yang indah sejatinya juga harus hangat, menyertakan, dan tidak melupakan nasib mereka yang menjadikan lapak sederhana sebagai rumah kedua sekaligus sumber harapan hidup.
 
Penulis: TIM REDAKSI BERITA & SOSIAL
Sumber: Pantauan langsung lokasi Gapis Watansoppeng, keterangan pelaku UMKM, konteks kebijakan penataan kota Pemkab Soppeng
Lokasi Liputan: Watansoppeng, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan
Waktu Rilis: Senin, 22 Juni 2026
 
#UMKMSoppengDesakKajiUlang #DariRamaiKeSepi #RelokasiGapis #NasibPedagangKecil #PenataanKotaTakKorbankanEkonomiRakyat #SoppengMenangis #BeritaMenyentuhHati

×
Berita Terbaru Update