TIPIKORNEWS.COM, KUBU RAYA, KALIMANTAN BARAT - Angka titik panas di Kalimantan Barat akhirnya menurun. Namun di lahan gambut, cerita belum selesai: api boleh tak lagi terlihat, tetapi asap masih menagih langit. Inilah yang ditegaskan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Antoni saat kembali turun langsung meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.
28 Hotspot: Ketapang Masih Tertinggi
Dalam pengecekan di Rasau Jaya Satu, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Senin (24/8/2026), Menhut Raja Antoni menyampaikan bahwa jumlah titik panas (hotspot) di Kalbar telah menurun. Ia didampingi Gubernur Kalbar Ria Norsan, BMKG, jajaran TNI, Polri, BNPB, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, hingga Masyarakat Peduli Api.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) per pukul 23.59 malam (23/8), jumlah hotspot di Kalbar turun menjadi 28 titik tersebar di Ketapang 16 titik, Melawi 11 titik, dan Kubu Raya 1 titik.
"Kalbar sendiri ya, Kalbar 28 hotspot. Yang terbanyak itu di Ketapang 16, kemudian di Melawi 11, dan 1 ada di Kubu Raya," kata Menhut Raja Antoni.
Tipuan Gambut: Tiada Api, Bukan Tiada Asap
Meski hotspot menurun, Menhut Raja Antoni mengingatkan kondisi tersebut tidak berarti persoalan asap telah selesai. Saat meninjau lokasi, tidak terlihat lagi api di permukaan — namun asap masih tampak. Kondisi itu berkaitan dengan karakteristik lahan gambut yang membuat pembakaran tidak sempurna.
"Tidak adanya hotspot tidak berarti aman dari asap. Karena ini memang daerah gambut ya. Pembakaran tidak sempurna, sehingga asapnya lebih banyak ketimbang di tanah mineral," ujarnya.
Di sinilah paradoks karhutla gambut: angka bisa menenangkan, tetapi langit tidak bisa berdusta. Api yang bersembunyi di bawah permukaan gambut tetap bekerja dalam diam, mengirim asap ke udara tanpa sempat tertangkap kamera satelit sebagai titik panas.
Kerja Bersama, Bukan Kerja Satu Pihak
Menhut Raja Antoni juga menyebut penurunan hotspot tidak hanya terjadi karena operasi di darat, tetapi didukung kerja bersama berbagai pihak termasuk TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, BNPB, dan para relawan yang berjibaku di garis depan.
Beban Nasional Bergeser ke Sumatera
Perkembangan hotspot secara nasional juga menunjukkan pergeseran. Jika beberapa hari atau minggu sebelumnya hotspot terbanyak berada di Kalimantan, maka berdasarkan data (23/8) malam, jumlah terbanyak justru tercatat di Sumatera: Sumatera Selatan 127 hotspot, Riau 54, dan Jambi 47.
"Data lapangan sangat dinamis secara nasional, karena memang ini sangat sulit diprediksi," katanya.
Pergeseran ini menjadi penanda bahwa perang melawan karhutla belum memasuki babak akhir ia hanya berpindah medan. Apa yang hari ini mereda di Kalimantan, besok bisa menyala di Sumatera.
Hotspot boleh turun dan dirayakan; tetapi asap adalah utang yang terus ditagih gambut, jauh setelah kamera meninggalkan lokasi.
Red

0 Komentar