TIPIKORNEWS.COM. , GOWA, SULAWESI SELATAN , 13 AGUSTUS 2026 - Di tengah hangatnya suasana Warkop Mannangkasi, Mawang, Kabupaten Gowa, selembar demi selembar ingatan masa lalu kembali dibuka untuk masa depan. Putra Mahkota Kesultanan Gowa, A. Muhammad Imam (Patimatarang), resmi meluncurkan buku hasil alih aksara naskah kuno berjudul Lontara’ Bilang Gowa Tallo’, Rabu (12/8/2026) malam sebuah langkah nyata menyelamatkan harta budaya agar tak sekadar tersimpan, melainkan hidup dan dipahami oleh generasi kini.
Buku ini lahir dari naskah kuno bernomor registrasi VT 25, yang kini dihadirkan kembali dalam aksara yang lebih mudah dibaca dan dipelajari masyarakat luas. Upaya ini bukan sekadar perubahan huruf, melainkan menjembatani jarak berabad-abad agar kandungan sejarah, kebijaksanaan leluhur, dan jati diri Gowa-Tallo’ tetap terjaga keasliannya tanpa mengurangi satu pun nilai luhur yang tersimpan di dalamnya.
Dihadapan para hadirin yang menyimak dengan khidmat, Putra Mahkota Kesultanan Gowa, A. Muhammad Imam (Patimatarang), yang tampil didampingi Punggawa Kunjung Mae, memaparkan makna mendalam di balik naskah-naskah kuno tersebut.
“Naskah Lontara bukan sekadar peninggalan tertulis yang tersimpan di lemari. Ia adalah sumber pengetahuan yang merekam perjalanan panjang sejarah, nilai-nilai kehidupan, sekaligus identitas diri masyarakat Gowa dan Sulawesi Selatan. Mengalihaksarakannya berarti kita menghidupkan kembali cahaya penuntun yang pernah menyinari perjalanan leluhur kita,” ujarnya dengan penuh kebanggaan dan tanggung jawab.
Alih aksara naskah VT 25 ini dikerjakan dengan ketelitian dan ketulusan hati oleh tim yang terdiri dari A. Muhammad Imam (Patimatarang/Putra Mahkota), Ashari Gunawan, Andi Muh. Nur Fajrin, dan Renaldi. Seluruh proses hingga penerbitan mendapat dukungan serta pendanaan penuh dari Balai Pelestarian Kebudayaan wujud nyata kepedulian negara dalam menjaga, mengembangkan, dan mewariskan kekayaan intelektual bangsa kepada anak cucu.
Kini, Lontara’ Bilang Gowa Tallo’ hadir sebagai jendela terbuka: memperkuat literasi sejarah yang berakar di tanah sendiri, sekaligus memudahkan generasi muda menelusuri jejak leluhur tanpa kehilangan arah. Semangat yang tersirat dalam ungkapan indah “Inai A’Gau, Inai Ni Bilang” menjadi pesan utama: sebagaimana perbuatan, demikianlah riwayatnya. Menelusuri sejarah berarti mengenal diri sendiri; menjaga warisan berarti menjaga jati diri agar tak luntur diterus zaman.
Peluncuran ini bukan sekadar kelahiran sebuah buku, melainkan kesadaran bersama: bahwa warisan leluhur tak boleh hanya menjadi kenangan masa lalu, melainkan harus menjadi cahaya yang menerangi jalan masa depan. Dengan buku ini, pintu pengetahuan terbuka lebih lebar agar setiap orang yang membacanya pun dapat berkata: aku mengenal siapa leluhurku, dan aku tahu ke mana arah perjalananku.
((Robby.R))

0 Komentar