SMPN 1 Way Panji Diduga Miliki Beberapa Jumlah Siswa Fiktif

Tipikornews.com, Lampung Selatan
Serapat-rapatnya menyembunyikan bangkai ahirnya tercium juga, pribahasa ini mungkin agak tepat untuk diberikan pada Astina, M.Pd, Kepala SMPN 1 Way Panji Kabupaten Lampung Selatan.

"Pasalnya Sekolah yang di nahkodainya sejak tahun 2014, menyimpan banyak masalah yang tertutup dengan rapi tidak pernah terungkap kepermukaan"

Seperti yang telah dibaritakan media online www.tipikornews.com di beberapa waktu sebelumnya, bahwa adanya indikasi dugaan pemalsuan tanda tangan ketua komite, berikutnya adanya dugaan penjualan kardus dan buku-buku arsip, ada juga penjualan beberapa pohon kayu sebagai pelindung sekolah, ada dugaan telah mengabaikan tugasnya dalam hal pengurusan untuk pencairan dana bantuan PIP tahun 2020 bagi muridnya, akibatnya para murid tidak atau belum mendapatkan dana bantuan tersebut, ditambah lagi keluhan para dewan guru yang mana mereka disuruhnya (Astina-red) untuk membeli kertas sendiri dalam menunjang kerja mereka disekolah, perintah itu sering disampaikannya dalam forum rapat bulanan, artinya persoalan perintah pembelian kertas itu sendiri bukanlah merupakan rahasia, karena dewan guru sudah mengetahuinya semua, dan hal ini patut dipertanyakan, apakah tidak ada dana yang dianggaran dari sekolah untuk pembelian ATK sehingga para dewan guru harus membeli kertas sendiri-sendiri "..?

Kali ini terungkap lagi boroknya bahwa ada sejumlah nama siswa yang diduga fiktif, beberapa orang murid yang sudah keluar atau berhenti dari SMPN 1 Way Panji, bahkan ada diantara mereka yang sudah keluar cukup lama, ada yang keluar sejak dari tahun 2018, ada yang keluar di tahun 2019 dana juga yang keluar ditahun 2020, akan tetapi oleh pihak sekolah mereka ini masih dicatat sebagai siswa aktif di SMPN 1 Way Panji hingga Januari 2021, praktek tersebut diduga ada unsur kesengajaan yang diduga dilakukan oleh oknum kepala sekolahnya, hal itu diperkuat dari sumber yang didapat oleh wartawan kami dilapangan yang menyebutkan bahwa beberapa guru sudah pernah menyampaikan langsung pada oknum kepala sekolahnya untuk mencoret nama murid-murid yang sudah keluar tersebut, akan tetapi menurut mereka, oknum kepala sekolah tersebut malah melarangnya, dan dari data yang dimiliki wartawan kami kesemua dari mereka yang sudah keluar itu diduga benar, dan mereka tercatat sebagai siswa aktif di SMPN 1 Way Panji hingga sampai Januari 2021 dan sebagian dari mereka itu masuk sebagai penerima bantuan dana Program Indonesia Pintar (PIP), sumber kami mengatakan mereka baru dikeluarkan dari data best sekolah di bulan Januari 2021 oleh pihak sekolah karena sudah mendekati masa persiapan ujian dan pengusulan Ijazah.

Dibagian lain wartawan kami mendatangi beberapa murid dan wali murid yang anaknya sudah keluar dari SMPN 1 Way Panji, untuk mencari kebenaran dari info tersebut diatas, dari hasil penelusuran kami dilapangan ditemukan lebih dari 5 (lima) orang murid yang sudah keluar, dari beberapa orang murid dan wali murid yang kami temui mengakui kalau anak mereka sudah keluar atau berhenti sebagai murid di SMPN 1 Way Panji, ada diantaranya yang keluar dari tahun 2018, atau baru selesai mengikuti kegiatan MOS langsung berhenti.

Menurut mereka berhentinya anak mereka dari sekolah tersebut sudah diketahui oleh pihak sekolah, karena setelah lebih dari seminggu anaknya tidak masuk sekolah, rumah mereka pernah didatangi guru dari sekolahannya yang menanyakan mengapa anak mereka tidak masuk sekolah, orang tua murid tersebut langsung menjelaskan kalau anaknya berhenti, dari penjelasan diatas sudah jelas oknum kepala sekolah mereka menegetahui kalau murid - murid itu sudah berhenti, namun mereka yang sudah keluar itu masih tetap dimasukkannya dalam data best sekolah sebagai murid aktif.

Diduga masih banyak penyimpangan yang diduga dilakukan oleh oknum kepala sekolah ini yang belum terungkap kepermukaan, anehnya pihak Dinas Pendidikan tidak mengambil sikap, seakan tutup mata dan tutup telinga dengan kejadian tersebut, bahkan kami telah memberikan waktu dan ruang untuk Yespi Cory, SH. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Selatan, hal yang samapun kami berikan juga pada yang bersangkutan (Astina-red) agar menyanggah, menanggapi, berkomentar atau menolak sebagian atau semua isi pemberitaan kami, bila dianggap tidak benar, seperti yang telah ditayangkan dibeberapa waktu lalu (Tiga tanyangan berita) sebelumnya, dan link beritanyapun sudah kami kirimkan juga pada mereka namun sampai berita yang keempat ini kami teryangkan tak ada satupun tanggapan yang kami terima.(Tn/Sai)

Posting Komentar

0 Komentar