Oknum Kepsek Mulai Resah Pernyataan Bawahan, "Kadisdik Yespi Cory, Tutup Mulut"

Tipikornews.com Lampung Selatan
Kendati pepatah sudah usang tapi masih relefan untuk digunakan, bak kata pepatah berikut ini "Tak mungkin ada asap kalau tak ada api" kurang lebih artinya tak mungkin ada cerita sesuatu kalau tidak ada kejadiannya, hal itu bermula dari perasaan tertekan para Dewan guru yang mengajar di SMPN 1 Way Panji yang setiap rapat bulanan selalu dihimbau oleh Oknum Kepala sekolah untuk membeli kertas sendiri guna menunjang kegiatan belajar mengajar disekolah mereka.

Kendati dalam hati kecil mereka tidak bisa menerima himbauan itu, tapi mereka juga tidak berani untuk membantahnya, seperti para nara sumber kami mengatakan, "Kami sendiri merasa heran apa tidak ada anggaran yang dialokasikan untuk pembelian ATK, kok kami dewan guru yang harus beli kertas sendiri, padahal ada dana BOS, yang bisa dipakai untuk itu,".

Lain halnya dari sumber yang lain lagi mengatakan Kepala Sekolah mereka memang agak rakus dengan uang, sampai-sampai kardus bekas komputer dan buku-buku bekaspun dijualnya dan bulan Juli yang lalu serta pohon-pohon sebagai perlindung sekolahan agar tidak terlalu panas dari terik matahari ada mungkin ada sekitar 16 batang pohon dijualnya.

Apa yang disampaikan beberapa dewan guru, yang dikonfirmasi wartawan kami bersangkutan (Astina-red), apakah benar dalam setiap rapat bulanan dirinya menghimbau para gurunya agar beli kertas sendiri, hal itu disangkalnya, Dia mengatakan kalau untuk kegiatan mengajar sudah disediakan diruangan laboratorium tinggal bicara saja dengan TU, Ujarnya.

"Padahal perintah agar minta kertas di TU itu baru setelah dikonfirmasi wartawan kami, ujar salah seorang guru pada kami, sebelum-sebelumnya tidak ada perintah seperti itu, "Saya jual sendiri untuk membersihkan gudang, dan uang hasil jual kardus itu di bagi-bagi dengan beberapa guru untuk mamin, ujarnya.

"Namun sumber kami mengatakan yang membersihkan gudang serta mengumpulkan kardus dan kertas bekas itu seorang guru honor, dan guru itu sendiri tidak diberi apa-apa oleh Kepala sekolah.

Tentang penjualan kayu itupun diakuinya, itu awalnya ada pohon yang roboh menimpa tempat parkiran, sehingga beberapa pohon yang lain saya tebang juga hawatir kalau roboh menimba bangunan lainnya, itu harganya buat biaya penebangnya saja, ditanya berapa biaya tebangnya dirinya mengatakan hanya Rp. 300 ribu, bahkan dinrinya mengakuui bpenebangan pohon itu rugi, ujarnya.

"Sedang informaasi di lapangan, pohon kayu 16 batang itu dijual bersangkutan (Astina-red) lebih dari Rp. 1 juta rupiah,".

Sumber kami mengatakan dalam beberapa hari belakangan ini oknum kepala sekolah SMPN 1 Way Panji mulai sibuk menanyai satu persatu gurunya mencari tahu siapa saja diantara mereka yang membuat pernyataan kepada wartawan tipikornews.com, masih menurut nara sumber kami, katanya bagi dewan guru yang telah membuat pernyataan itu akan dibawa ke dinas, namun dirinya tidak menyebutkan untuk tujuan apa dibawa kedinas.

Sebelum berita ini di tayangkan, kami sempat mengirimkan pesan melalui WhatsApp, Senin (23/08/21) pukul 10:21 Wib kepada  Kepala SMPN 1 Way Panji (Astina-red). untuk meminta tanggapan, resfon ataupun sanggahannya terhadap tiga berita yang telah kami publikasikan sebelumnya, namun sampai berita ini diterbitkan yang bersangkutan, tidak ada tanggapan, begitu pula dengan Yespi Cory, SH sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Selatan, (Bersangkutan baru saja dilantik jadi Kadis Pendidikan belum genap sebulan). Kami mintai tanggapannya atas persoalan Astina (Kepala SMPN 1 Way Panji) dan berikut tiga berita yang sudah kami tayangkan dengan mengirim melalui pesan WharsApp ke handphonenya, Jumat (27/08/21) pukul 08:18 Wib namun yang bersangkutan (Yespi Cory-red) tidak memberikan jawaban.(Tn/Sai)

Posting Komentar

0 Komentar