Tan Tjong Boe: Imlek Bukan Hari Raya Agama, Tapi Budaya Untuk Menjaga Nilai-Nilai Leluhur


TIPIKORNEWS.COM- Tao, Konghucu dan Umat Buddha sebagai Tridharma yang saling bersatu mengisi dalam menjalankan ibadahnya yang berdatangan ke vihara dan kelenteng pada saat perayaan Imlek, mereka mendatangi tempat ibadah untuk sembahyang, berdoa kepada dewa dan para leluhur.

Pembina Vihara Tanda Bhakti Tan Tjong Boe menjelaskan bahwa perayaan Imlek adalah perayaan suku Tionghoa, bukan perayaan suatu agama. Perayaan Imlek itu sebenarnya merupakan pesta rakyat suku Tionghoa yang sudah menjadi kebudayaan dalam kurun waktu setahun sekali.

Makna dari perayaan Imlek adalah mensyukuri anugerah yang telah diberikan Tuhan dan memohon perlindungan di masa mendatang. Selain itu, Imlek juga selalu dijadikan sarana silaturahmi untuk saling mengunjungi kerabat. Biasanya yang muda mengunjungi yang tua, kemudian yang tua memberikan semacam hadiah yang biasa disebut angpao kepada yang muda, jelasnya saat ditemui di Vihara Tanda Bhakti Jalan Vihara No 3 Kota Bandung, Jumat (12/2/2021).

Diterangkan Tan, Imlek itu memiliki kaitan erat terutama dengan Konghucu. Tapi sebenarnya Imlek bukan semata perayaan ritual keagamaan. Imlek sudah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi. Bahkan sebelum orang-orang Tionghoa mengenal agama.

Bagi yang beragama Konghucu, Imlek menjadi perayaan agama. Tapi bagi umat lain, baik itu Islam atau Kristen keturunan Tionghoa, Imlek bermakna budaya. Jadi suku Tionghoa agama apapun tetap boleh merayakan Imlek, karena itu budaya suku Tionghoa.

Sekali lagi, Tan menjelaskan bahwa perayaan Imlek bukanlah perayaan agama, melainkan sebuah budaya yang harus dirayakan demi menjaga nilai-nilai leluhur. ***

Posting Komentar

0 Komentar