Anggota Pansus 7 DPRD Kota Bandung Folmer Siswanto M. Silalahi. ST: DPRD Kota Bandung Rancang Perda Pengembangan Ekonomi Kreatif

TIPIKORNEWS.COM-
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung tengah menyiapkan rangcangan Peraturan Daerah (Perda) mengenai pembinaan dan pengembangan ekonomi kreatif di Kota Bandung. Pembinaan dan pengembangan ekonomi kreatif di Kota Bandung dinilai belum optimal. Sinergi antara program pemerintah dan pelaku usaha masih kerap meleset. Karena itu, DPRD Kota Bandung menyiapkan Perda tentang Ekonomi Kreatif. 

Raperda ekonomi kreatif yang tengah dibahas menjadi upaya pemerintah daerah meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Salah satunya ekonomi kreatif yang dinilai tengah menggema saat ini. Kehadiran perda ini, untuk perkembangan ekonomi kreatif dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Selain meningkatkan pertumbuhan ekonomi, perda ini juga dapat menjadi peluang menambah kesempatan kerja sehingga dapat mengurangi tingkat pengangguran, bahkan pengembangan industri ekonomi kreatif bisa lebih terarah. Bahkan masyarakat dinilainya bisa didorong untuk mengembangkan keahliannya di bidang kreatif. 

Anggota Pansus (Panitia Khusus) 7 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung Folmer Siswanto M. Silalahi. ST mengatakan lahirnya Perda Penataan dan Pengembangan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kota Bandung, dapat memberikan kesejahteraan ekonomi bagi warga Kota Bandung. Seperti pelaku ekonomi kreatif saat ini mulai tumbuh di Kota Bandung, namun dengan dukungan perda tersebut, dapat menjadi nilai tambah dalam memberikan sumbangsih untuk perekonomian masyarakat. "Kedepan ekonomi kreatif dapat membantu perekonomian dan kesejahteraan masyarakat," katanya. 

Menurut Folmel, bahwa Pemkot Bandung harus membuat subsektor prioritas atau unggulan, dimana harus menjadi pertimbangan utama dalam menyusun rencana induk pengembangan ekonomi kreatif daerah. "Rencana induk lebih lokal, kedaerahan dan kekinian, dalam menguatkan citra Kota Bandung. Dengan demikian diharapkan Kota Bandung semakin menjadi rujukan dari daerah lain," terangnya. 

Ekonomi kreatif merupakan gagasan bagus, dalam meningkatkan perekonomian di Kota Bandung. dibutuhkan peraturan atau payung hukum untuk melindungi para pelaku ekonomi kreatif dalam berkreasi. "Dengan ekonomi kreatif maka warga atau pelaku usaha lebih berdaya, tapi perlu didukung oleh payung hukum atau peraturan yang jelas," tambahnya. 

Dijelaskan Folmel, penentuan leading sektor tersebut perlu adanya perbaikan atau evaluasi tahunan. "Fokus satu (sektor) saja dulu. Apa yang jadi leading sektornya, baru kembangkan subsektor lain. Fashion, kriya, dan kuliner, itu hal yang bisa dianggap leading sektor. Menjadi hak untuk subsektor lain biar bisa berkembang. Maka perlu adanya revisi tahunan atau dipercepat sesuai kebutuhan. Harus lugas, harus bisa diprediksi, misal 2 tahun ke depan untuk bisa melakukan perbaikan," kata Folmer. 

"Ada dua pertimbangan, dengan alasannya yang kuat. Pertama, ketika Perda fokus ke beberapa subsektor unggulan, konsekuensinya subsektor lain tidak mendapat perhatian. Jangan sampai, leading sektor membuat sektor lain tidak mendapat perhatian. Kedua, harus ada alasan dijadikan leading sektor harus objektif dan yang bisa dipahami dengan subsektor lain," bahwa potensi Ekonomi Kreatif di Kota Bandung cukup besar, bahkan masuk peringkat top 10 kota kreatif di Indonesia. Jelasnya. 

Tujuan dibahasnya perda ini, akan menjadikan penataan dan pengembangan ekonomi kreatif di kota Bandung. Namun jika semua sektor dibebankan pada Disbudpar, akan terlalu besar dan tidak akan terkendali. Karena di luar itu pun sudah dibahas oleh Disdagin dan UMKM. Maka di luar itu, potensi-potensi di luar itu bisa dikelola menjadi fokus dinas pariwisata (Disbudpar). Misalnya musik, pengembangan aplikasi, seni pertunjukan, dan lain-lain," pungkas 

Folmel berharap dengan adanya Peraturan Daerah (Perda) Ekonomi Kreatif (Ekraf), dapat menambah nilai ekonomi bagi produk-produk yang dihasilkan warga Kota Bandung. "Ekonomi kreatif Kota Bandung harus memberi nilai tambah ekonomi (nilai pasar), sosial, lingkungan yang berasal dari nilai-nilai kearfian lokal," ungkapnya. (red)


Posting Komentar

0 Komentar