Zakat dan Penanganan Covid-19

TIPIKORNEWS.COM-
Hingga rabu kemarin, angka positif covid-19 masih menunjukkan adanya tren penambahan. Lebih dari 23 ribu kasus positif corona telah terjadi di Indonesia, dengan jumlah kasus sembuh mencapai angka lebih dari lima ribu pasien. Adapun tingkat mortalitas, secara prosentase menunjukkan tren penurunan. Saat ini data menunjukkan tingkat mortalitas pada kisaran enam persen, turun dibandingkan dengan bulan lalu yang masih berada pada kisaran delapan hingga sembilan persen. Tentu ini patut kita syukuri meski kita tidak boleh lengah dalam penerapan protokol pencegahan covid-19, seperti mempersedikit keluar rumah jika tidak sangat terpaksa, dan kalaupun terpaksa keluar rumah, tetap menjaga jarak dan menggunakan masker. Juga anjuran pola hidup bersih dan sehat.

Sementara di sisi lain, kita juga berhadapan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam satu dekade terakhir, baru kali ini pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di bawah angka tiga persen, dimana ekonomi hanya tumbuh 2,97 persen pada triwulan pertama tahun 2020. Padahal angka tersebut terjadi saat pandemi covid-19 baru pada tahap awal perkembangan, sementara saat ini sudah berada pada lereng kurva dan bergerak menuju puncak kurva penyebaran covid-19. Penulis menduga bahwa pada triwulan kedua dan ketiga, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi akan lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan pertama. Skenario terburuk, pertumbuhan ekonomi bisa saja negatif di bawah nol persen. Indonesia pernah dua kali mengalami pertumbuhan negatif, yaitu tahun 1963 saat masa orde lama dan tahun 1998 saat kejatuhan orde baru. Tahun 1963 ekonomi kita tumbuh -2.24 persen dan tahun 1998 tumbuh -13.13 persen.

Dengan kondisi di atas, maka kontribusi dan peran seluruh komponen bangsa menjadi sangat penting, agar dampak negatif pandemi covid-19 bisa dimitigasi dan diatasi dengan baik. Negara tidak bisa sendirian dalam hal ini. Diperlukan adanya dukungan dan kolaborasi berbagai pihak agar semua sumberdaya yang dimiliki bangsa ini dapat dimanfaatkan dengan baik. Salah satu institusi yang berperan dalam upaya penanggulangan dampak covid-19 ini adalah institusi zakat. BAZNAS dan LAZ telah menunjukkan keterlibatannya dalam kegiatan respon terhadap pandemi ini, baik ditinjau dari program kesehatan maupun program sosial ekonomi. BAZNAS Pusat sebagai contoh, hingga 25 Mei 2020, telah menggelontorkan dana sebesar Rp 28,32 miliar yang dialokasikan untuk program darurat kesehatan (39 persen), darurat sosial ekonomi (59 persen) dan pengamanan program yang ada saat ini (2 persen).

Pengamanan existing programme ini maksudnya adalah bagaimana menjaga agar program-program penyaluran zakat yang telah berjalan dengan menyasar para mustahik bisa tetap berlanjut, sehingga dampak covid-19 terhadap mustahik yang telah dibina BAZNAS ini dapat diminimalisir. Hingga 25 Mei 2020, sebanyak 357 ribu mustahik telah menerima manfaat program penyaluran BAZNAS Pusat di tengah pandemi covid-19 ini. Jika ditambahkan dengan data BAZNAS Provinsi, BAZNAS Kabupaten/Kota, maupun LAZ, angkanya diprediksi akan meningkat dan dapat mencapai empat hingga lima juta jiwa. Ini menunjukkan bahwa peran zakat semakin signifikan dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Selain itu, hal lain yang perlu dilakukan adalah memperkuat kolaborasi antar lembaga yang mengelola dana umat. Zakat tidak bisa sendirian, dan perlu berkolaborasi dengan dana keummatan lainnya seperti wakaf dan dana kemaslahatan. Sinergi antara BAZNAS dan LAZ dengan BPKH (Badan Pengelola Keuangan Haji) misalnya, bisa menjadi role model yang baik tentang pentingnya kolaborasi ini. Hasil pengelolaan DAU (Dana Abadi Umat) yang dilakukan BPKH juga banyak berkontribusi dalam penanganan covid-19 ini melalui kerjasamanya dengan lembaga zakat. Penulis berharap, seluruh potensi dana keummatan ini bisa dioptimalkan dan diefektifkan pemanfaatannya bagi bangsa melalui kolaborasi yang tepat dan efisien, dengan tetap memperhatikan aspek tata kelola dan pertanggungjawabannya.

Terakhir, ada satu fenomena menarik di tengah pandemi covid-19 ini, yaitu terkait dengan pola berbagi sebagian masyarakat yang justru semakin meningkat. Sebagai indikatornya adalah naiknya pengumpulan ZIS BAZNAS dan beberapa lembaga zakat lainnya. BAZNAS Pusat misalnya, pada Ramadhan 1441 H ini mencatat kenaikan penghimpunan ZIS sebesar 56 persen dibandingkan dengan Ramadhan 1440 H. Ini menunjukkan bahwa meski masyarakat secara umum mengerem laju konsumsi yang dilakukannya, dengan lebih memfokuskan diri pada konsumsi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan primer (dharuriyat), namun semangat berbagi sebagian masyarakat masih sangat tinggi. Ini mengindikasikan bahwa Indonesia sesungguhnya masih memiliki modal sosial yang kuat, sehingga penulis berharap agar narasi berbagi ini terus didorong dan dikumandangkan tanpa henti. Wallahu a’lam. (Tn/bznas.go.id)

Posting Komentar

0 Komentar