Waspada DBD, Tetap Lakukan 3Mplus, Tepat Lakukan Fogging

TIPIKORNEWS.COM - Meski kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Bandung masih di bawah ambang batas standar Kasus Luar Biasa (KLB), namun masyarakat diminta untuk tetap waspada dan mencegahnya dengan melaksanakan 3M plus.

"Sepanjang tahun ini ada 361 kasus demam berdarah, namun angka kejadian tersebut masih di bawah stanr KLB," ungkap Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, Ira Dewi Jani, Senin (19/2/2019).

Memberikan sosialisasi demam berdarah pada acara "Diseminasi Program 1 Rumah 1 Jumantik" yang digelar oleh Forum Bandung Sehat di Auditorium Balai Kota Bandung, Ira mengatakan, masyarakat harus selalu waspada terhadap demam berdarah.

"Mencegah demam berdarah dengan 3Mplus, yaitu menguras bak mandi dan penampungan air, mengubur barang-barang yang berpotensi menjadi tempat air menggenang, serta menutup rapat-rapat tempat penampungan air. Selain itu, pencegahan juga dengan menggunakan losion antinyamuk dan penggunaan abate," paparnya.

Selain dengan 3M Plus, pencegahan penularan virus juga bisa dengan pengasapan atau fogging. Namun sistem ini tidak bisa sembarangan dilakukan, ada syarat-syarat yang harus terpenuhi sebelum dilakukan pengasapan.

Ira mengalu mulai khawatir sebab kini banyak warga yang meminta pengasapaan meskipun tidak diperlukan. Masyarakat beranggapan bahwa demam berdarah bisa diatasi dengan pengasapan.

"Padahal tidak semua kasus demam berdarah memerlukan pengasapaan atau fogging,” katanya.

Sebelum meminta pengasapan, masyarakat sebaiknya melakukan upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) terlebih dahulu. Pengasapan baru bisa dilakukan setelah indikasi-indikasi tertentu terpenuhi.

“Harus dipastikan dulu itu memenuhi syarat. Soalnya fogging itu sebetulnya seperti pemberian obat pada orang sakit, jadi harus sesuai dengan indikasinya. Karena kalau tidak sesuai dengan indikasinya malah berakibat kurang baik. Fogging bisa mengakibatkan kekebalan pada nyamuk tersebut. Nanti giliran kita perlu fogging, eh nyamuknya sudah kebal, nggak bisa di-fogging lagi,” paparnya.

Ira memaparkan indikasi perlunya pengasapan secara umum. Pertama, ditemukan virus dengue ditandai dengan adanya pasien penderita DBD. Hal tersebut harus dibuktikan dengan surat Kewaspadaan Dini Rumah Sakit (KDRS) dari rumah sakit tempat pasien dirawat. Indikasi kedua, ditemukan jentik atau nyamuk dewasa pada radius 100 meter dari rumah pasien DBD.

“Nanti petugas melihat, betul tidak di situ ada jentik, ada nyamuk dewasa atau tidak. Kalau memang positif terdapat nyamuk demam berdarah dan kita menemukan juga jentik, baru bisa dilaksanaakan fogging,” terangnya.

Bagi warga yang ingin di wilayahnya dilakukan pengasapan, bisa mengajukan permohonan ke puskemas terdekat dengan membawa surat KDRS dari rumah sakit tempat pasien DBD dirawat. Setelah itu, petugas puskesmas akan melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap indikasi-indikasi adanya sarang nyamuk. Jika indikasi terpenuhi, barulah pengasapan bisa dilakukan.

Ira juga mengingatkan, pengasapan berpotensi menimbulkan efek samping bagi tubuh manusia. Sebab zat yang disemprotkan saat pengasapaan itu merupakan racun untuk membunuh nyamuk. Pada kondisi tertentu, zat ini juga bisa berdampak negatif.

“Karena yang diberikan juga insektisida. Apabila tidak digunakan dengan semestinya, kita juga khawatir berpotensi menjadi penyakit yang lain di kemudian hari. Maksudnya mau membunuh nyamuk malah ada dampaknya ke manusia,” imbuh wanita lulusan Universitas Padjadjaran itu.

Tak hanya itu, pengasapan harus dilakukan oleh petugas yang sudah terlatih dan bersertifikat. Tindakan itu harus prosedural. Petugas terlatih sudah tahu titik yang harus diberi pengasapan, baik di dalam maupun di luar rumah.

“Jadi memang fogging tidak bisa sembarangan. Harus oleh orang yang sudah terlatih dan bersertifikasi sesuai dengan Permenkes tentang aturan pengendaian vektor,” imbuhnya. (tn/h.bdg)

Posting Komentar

0 Komentar