70 Negara akan Merapat ke Bandung, Ikuti Global Land Forum 2018


TIPIKORNEWS.COM - Kota Bandung akan menjadi tuan rumah pelaksanaan Global Land Forum (GLF) ke-8 Tahun 2018, yang berlangsung pada 22-27 September 2018 mendatang. Forum pertemuan dunia tiga tahunan ini, akan membahas masalah pertanahan tingkat global dan regional, pertanian, pangan, pembangunan perdesaan, perempuan, masyarakat adat, perubahan iklim hingga teknologi terkait pengelolaan tanah dan sumber daya alam.

GLF ke-8 yang akan diikuti 900 peserta dari 700 organisasi di 70 negaraini, mengusung tema "United for Lands Rights, Peace and Justice". Tema tersebut bertujuan untuk mempromosikan tata kelola pertanahan untuk mengatasi ketimpangan, kemiskinan, permasalahan konflik, HAM, dan pembangunan perdesaan.

Untuk mempersiapkan pelaksanaan GFL 2018, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung bersama Panitia Pelaksana GFL 2018, melakukan rapat teknis, di Balai Kota Bandung, Jln. Wastukancana, Senin (6/8/2018). Rapat dipimpin oleh Wakil Wali Kota Bandung, Oded M. Danial dan dihadiri Ketua Pelaksana GLF 2018 sekaligus Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Dewi Kartika serta pejabat publik Pemkot Bandung.

Dewi Kartika dalam penjelasannya mengatakan, GLF telah digelar di sejumlah kota di dunia. Di antaranya, GLF 2003 di Roma, Italia; GLF 2005 di Santa Cruz, AS; GLF 2007 di Entebbe, Uganda; GLF 2009 di Kathmandu, Nepal; GLF 2011 di Tirana, Albania; GLF 2013 di Antigua, Antiqua and Barbuda; dan GLF 2015 di Dakkar, Senegal.

“Kota Bandung terpilih karena dinilai mampu membawa semangat kemerdekaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika," katanya.

Selain itu, Indonesia dipandang mempunyai perhatian besar terhadap masalah pertanahan. Indonesia mempunyai gerakan sosial yang memperjuangkan hak atas tanah. "Juga adanya kemajuan politik pemerintah Indonesia yang mendorong proses pengakuan hak atas tanah melalui kebijakan reforma agraria dan penyelesaian konflik,” lanjut Dewi.

Dewi menyampaikan, rangkaian acara GLF 2018 dimulaian pada 22 September. Pada tanggal 22-23 September, diadakan kunjungan lapangan atau field visit ke sejumlah lokasi. Di antaranya Karang Kasepuhan, Banten (Masyarakat Adat); Cigalontang Tasikmalaya (Reforma Agraria); Pulau Pari (Kedaulatan Pangan Dibawah Ancaman Perampasan Tanah); Maros, Sulawesi Selatan (Perampasan Lahan di Wilayah Karat Kedua di Dunia); dan Gunung Halimun, Bogor (Kerumitan Antara Wilayah Hutan, Hak Komunitas Lokal, Konservasi, dan Perubahan Oklim).

Pada 24 September digelar “Indonesian Day” dan “Asian Day”. Acara tersebut khusus untuk negara tuan rumah yang ditunjuk untuk mengatasi tantangan dan peluang khusus bagi negara dan wilayah.

"Khalayak publik dan pihak-pihak terkait dengan tata kelola lahan yang berpusat pada manusia akan menghadari acara ini," jelasnya.

Pada 25-26 September, digelar network forum yang menjadi ajang bagi para peserta untuk menggali lebih dalam hasil kunjungan lapangan yang dilaksanakan sebelumnya. Terakhir, pada 27 September dilakukan kegiatan membahas dan menyepakati isu-isu tata kelola pertanahan yang penting yang digagas oleh Majelis Anggota (The Assembly Of Members) Badan Tertinggi ILC (International Land Coalition).

Sementara itu, Wakil Wali Kota Bandung, Oded M. Danial mengapresiasi rencana kegiatan tersebut. Ia merasa bangga karena Kota Bandung terpilih sebagai tuan rumah penyelenggaraan GLF 2018.

"Terima kasih atas kepercayaan untuk Kota Bandung sebagai tempat penyelenggaraan. Mudah-mudahan bisa berjalan dengan baik dan lancar," katanya.

Oded menyarankan, agar penyelenggaraan selama tujuh hari berjalan lancar, koordinasi antara semua pihak yang terkait harus baik. "Agar terlaksana dengan baik dan lancar, maka perlu pertemuan atau rapat secara bergiliran. Ini agar koordinasi lebih maksimal," katanya. (tn/h.bdg)

Posting Komentar

0 Komentar